Pemungutan dan Penghitungan Suara Bersifat Strategis

Pemungutan dan Penghitungan Suara Bersifat Strategis

Pemungutan dan Penghitungan Suara Bersifat Strategis

Pemungutan dan Penghitungan Suara Bersifat Strategis

Pemungutan dan Penghitungan Suara Bersifat Strategis

BANDUNG – Pemungutan dan penghitungan suara pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Jawa Barat 2018 bersifat sangat strategis. Demikian dikemukakan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Jawa Barat Yayat Hidayat.

“Proses itu harus menjamin kesetaraan suara yakni setiap orang memiliki nilai yang sama, hak

mencoblos sudah terpenuhi dan petugas KPPS menjalankan fungsinya dengan baik. Jika hal itu tidak terpenuhi, berpotensi menimbulkan ketegangan dalam masyarakat,” ucapnya.

Menurut Yayat, hasil penghitungan suara merupakan bagian penting dari proses pemilu, karena dalam pelaksanannya relatif jarang diterima secara bulat oleh peserta pemilu.

“Terkadang menjadi sengketa di Mahkamah Konstitusi atau bahkan menimbulkan kerusuhan sosial meski kejadian yang tidak diharapkan itu tidak pernah terjadi di Jawa Barat,” kata Yayat, dalam pembukaan Bintek di Trans Studio Hotel, Jumat (20/04).

Yayat menyatakan, guna menyempurnakan proses pemungutan dan penghitungan suara, selain

melalui bimbingan teknis, pihaknya juga melakukan koordinasi secara intensif dengan Bawaslu terutama saat pemutakhiran daftar pemilih.

“Pada Pilgub 2013 lalu, saat itu sering terjadi perang urat syaraf antara PPK dengan Panwascam, KPUD dengan Panwaslu dan KPU dengan Panwaslu Provinsi, semoga ini tidak terjadi di Pilgub 2018,” tuturnya.

Yayat menambahkan pekerjaan KPU hingga PPK dan PPS selalu diawasi Bawaslu dan

perangkatnya, dimana masing-masing bekerja secara proporsional dan jika ada persoalan langsung diselesaikan saat itu juga.

“KPU kuat, karena dukungan Bawaslu. Kedua pihak memiliki persepsi yang sama terkait pilkada serentak,” pungkasnya.

 

Baca Juga :

 

 

3.575 Peserta Ikuti Tes CMPDP

3.575 Peserta Ikuti Tes CMPDP

3.575 Peserta Ikuti Tes CMPDP

3.575 Peserta Ikuti Tes CMPDP

3.575 Peserta Ikuti Tes CMPDP

BANDUNG- Sebanyak 320 peserta dari  Bandung hari ini mengikuti ujian tertulis Capital Market Profesional Development Program, yang diselenggarakan oleh The Indonesia Capital Market Institute, anak perusahaan Bursa Efek Indonesia.

Selain dilakukan di Bandung, tes yang dilakukan secara serentak ini juga dilakukan di 29 kota besar di Indonesia. Dan dari 3.962 pelamar yang lolos administrasi, mereka berhak untuk mengikuti tes tertulis hari ini, Sabtu (21/04) sebanyak 3.575 orang.

Traineer Bursa Efek Indonesia Pusat Informasi Go Publik Jawa Barat Sri Herlinawati mengatakan tes

ini untuk memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang paham terhadap pasar modal yang saat ini dirasakan masih kurang.

“IHSG di Indonesia menjadi indeks yang paling potensial di dunia untuk 10 tahun terakhir, yaitu sebesar 125.40%. Namun, potensi pasar modal di Indonesia masih terkendala dengan minimnya jumlah SDM di pasar modal,” ucapnya.

Menurut Sri, CMPDP memiliki tujuan jangka menengah dan panjang dengan cara mempersiapkan talenta pasar modal yang akan menjawab tantangan di masa depan dan membantu menggerakkan industri pasar modal Indonesia.

“Ini yang ke-3 kali, pada 2016 jumlah kandidat CMPDP yang ditempatkan di SRO 26 orang dan di

tahun 2017  31 orang, ini memberikan peluang bagi masyarakat untuk berkarir di pasar modal,” katanya.

Sri menambahkan bagi peserta yang lulus tes tertulis akan mengikuti serangkaian tes lainnya seperti Psikotest, FGD, dan Interview sampai dengan terpilihnya peserta terbaik yang akan mengikuti 6 bulan program pengembangan dan 6 bulan on the job training.

“Nantinya setiap lulusan CMPDP akan ditempatkan bekerja di SRO. Nantinya SRO akan memiliki

SDM profesional yang handal dan memadai guna mendukung operasional bisnis dan mengembangkan industri pasar modal Indonesia,” tuturnya.

 

Sumber :

https://www.kiwibox.com/alistudio/blog/entry/147702911/sejarah-bahasa-indonesia/

Awasi Pemilu, Bawaslu Jabar Gaet Mahasiswa

Awasi Pemilu, Bawaslu Jabar Gaet Mahasiswa

Awasi Pemilu, Bawaslu Jabar Gaet Mahasiswa

Awasi Pemilu, Bawaslu Jabar Gaet Mahasiswa

Awasi Pemilu, Bawaslu Jabar Gaet Mahasiswa

BANDUNG – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Barat menggaet kalangan mahasiwa

dalam mengawasi proses pilkada Jabar 2018. Hal ini dilakukan agar proses pengawasan pemilu dapat dilakukan lebih optimal.

“Kemarin kita sudah melakukan beberapa kegiatan tentang kepemiluan dan bagaimana mengawasi pemilu di kalangan mahasiswa,” kata Harminus Koto usai mengikuti Rapat Koordinasi Pembentukan Gerakan Pengawasan Partisipatif Mahasiswa Jawa Barat pada Pilkada Tahun 2018, di Bandung, Senin (23/4/2018)

Menurut Harminus, saat ini Bawaslu Jabar sedang membentuk organisasi kemahasiswaan dari

tingkat Kabupaten/Kota, sehingga para mahasiswa yang diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mampu mengawasi dari tingkat provinsi sampai ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)

“Nah sekarang kita sedang membentuk keorganisasian kemahasiswaan itu dari tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota. Para mahasiswa ini sebagai partisipatif pengawas pemilu yang akan mengawasi di wilayah Kabupaten/Kota sampai ke TPS,”ungkap Harminus.

Mahasiswa ini, selain bertugas mengawasi, juga melaporkan jika terjadi pelanggaran kepada

Bawaslu yang ada di wilayahnya masing-masing. Pengawasan Pemilu ini melibatkan seluruh kampus yang ada di Jawa Barat.

“Jika ditemukan pelanggaran mereka bisa melaporkan langsung kepada Panwaslu yang ada di wilayahnya masing-masing,” pungkasnya. (Pun)

 

Sumber :

https://www.kiwibox.com/alistudio/blog/entry/147702875/sejarah-bpupki/

Masalah Kebencanaan Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan

Masalah Kebencanaan Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan

Masalah Kebencanaan Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan

Masalah Kebencanaan Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan

Masalah Kebencanaan Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan

BANDUNG-Tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan Pemerintab Daerah dalam menghadapi bencana besar masih relatif masih rendah, terbukti dari hasil polling bencana, ternyata 77 persen menyatakan belum siap, 14 persen menyatakan cukup siap dan 9 persen menyatakan siap.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan pengurangan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan, dimana. pengurangan risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan nasional.

“Sosialisasi dan pendidikan kebencanaan harus ditingkatkan. Masih banyak masyarakat yang belum paham ancaman bencana dan antisipasi yang dilakukan,” katanya.

Menurut Sutopo, pendidikan bencana perlu memasukkan dalam kurikulum pendidikan sejak SD-

SMA, ini sesuai pendapat masyarakat dari polling bencana dimana 97 persen menyatakan pendidikan bencana wajib dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, sedangkan hanya 3 persen yang menyatakan tidak setuju.

“Untuk membantu meningkatkan pengetahuan dan sosialisasi bencana, BNPB menerbitkan Buku Saku Menghadapi Bencana, dalam buku ini disampakan hal-hal yang mendasar yang perlu diketahui oleh masyarakat, baik ancaman bencana maupun tips-tips menghadapi bencana,” tuturnya.

Sutopo menjelaskan, bahwa bencana adalah keniscayaan dan pasti terjadi di Indonesia karena

Indonesia rawan bencana, namun yang penting adalah apakah kita sudah siap menghadapi bencana itu karenanya kesiapsiagaan dan mitigasi adalah hal yang penting.

“Tanpa itu maka dampak bencana akan selalu menimbulkan korban jiwa besar kerugian ekonomi

yang besar. Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada, kenali bahayanya dan kurangi risikonya,” pungkasnya. (

 

Baca Juga :

 

 

 

Tingkat Pengangguran Terbuka Didominasi Lulusan SMK

Tingkat Pengangguran Terbuka Didominasi Lulusan SMK

Tingkat Pengangguran Terbuka Didominasi Lulusan SMK

Tingkat Pengangguran Terbuka Didominasi Lulusan SMK

BANDUNG–Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat (Jabar) menyebutkan jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 sebanyak 22,63 juta orang, naik 237,12 ribu orang dibanding Agustus 2017. Namun, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menurun 0,42 persen poin.

Dalam setahun terakhir, TPT turun menjadi 8,17 persen pada Agustus 2018. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi di antara tingkat pendidikan lain yaitu sebesar 16,97 persen.

“Penduduk yang bekerja sebanyak 20,78 juta orang, bertambah 228,31 ribu orang dari Agustus

2017,” kata Doddy Herlando, Kepala BPS Jabar, Senin (5/11).

Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja terutama pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (0,58 persen poin), Transportasi (0,24 persen poin) dan Industri Pengolahan (0,23 persen poin). Sedangkan lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan utamanya pada Pertanian (1,19 persen poin), Perdagangan (0,55 persen poin), dan Jasa Keuangan dan Asuransi (0,09 persen poin).

Sebanyak 10,02 juta orang (48,22 persen) bekerja pada kegiatan informal. Selama setahun terakhir,

dari Agustus 2017 yang besarnya 49,78 persen, pekerja informal turun hingga 1,56 persen poin.

Dari 20,78 juta orang yang bekerja, sebagian besar penduduk bekerja pada Agustus 2018, yaitu

sekitar 16,17 juta orang (79,23 persen) merupakan pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu). Sementara penduduk yang bekerja dengan jam kerja 1-7 jam memiliki persentase yang paling kecil yaitu sebesar 1,23 persen. jo

 

Sumber :

https://blog.dcc.ac.id/nama-latin-tumbuhan-paku/

Ekonomi Jabar Masih Tetap Tumbuh

Ekonomi Jabar Masih Tetap Tumbuh

Ekonomi Jabar Masih Tetap Tumbuh

Ekonomi Jabar Masih Tetap Tumbuh

Ekonomi Jabar Masih Tetap Tumbuh

BANDUNG-Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat merilis Perekonomian Jawa Barat pada triwulan III-2018. Ekonomi Jawa Barat triwulan III-2018 terhadap triwulan III-2017 tumbuh 5,58 persen (y-on-y) meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2017 yang tumbuh sebesar 5,20 persen.

Perekonomian diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 501,70 triliun. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 361,89 triliun.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,85 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit tumbuh sebesar 18,92 persen.

Menurut Kepala BPS Jabar Doddy Herlando, Ekonomi Jawa Barat triwulan III-2018 terhadap

triwulan sebelumnya meningkat sebesar 1,75 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 6,06 persen. Pertumbuhan tertinggi dari sisi Pengeluaran lebih disebabkan pertumbuhan komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintahan sebesar 8,71 persen.

Ekonomi Jawa Barat tirwulan III-2018 secara kumulatif (c-to-c) tumbuh 5,73 persen. Dari sisi

produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,31 persen. Pertumbuhan tertinggi dari sisi Pengeluaran disebabkan oleh pertumbuhan Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit tumbuh sebesar 19,45 persen.

Sementara sumber laju pertumbuhan (Source of Growth, SOG) secara (y-o-y) dari sisi lapangan

usaha yang memberikan andil pertumbuhan terbesar adalah Lapangan Usaha Industri Pengolahan yaitu sebesar 2,92 persen. Andil positif terbesar terhadap pertumbuhan adalah komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) sebesar 2,44 persen. jo

 

Sumber :

https://blog.dcc.ac.id/struktur-kulit-sebagai-organ-ekskresi/

Mengenal Tentang Abimanyu dalam Kisah Pewayangan

Mengenal Tentang Abimanyu dalam Kisah Pewayangan

Mengenal Tentang Abimanyu dalam Kisah Pewayangan

Mengenal Tentang Abimanyu dalam Kisah Pewayangan

Mengenal Tentang Abimanyu dalam Kisah Pewayangan

1. Nama Lain

– Angkawijaya                – Jaya Murcita 
– Jaka Pangalasan          – Partasuta 
– Sumbadraatmaja          – Wanudara
– Wirabatana.                 – Kirityatmaja 

Abimanyu merupakan putra Arjuna dengan Dewi Subadra, putri Prabu Basudewa Raja Mandura. Ia mempunyai 13 orang saudara lain ibu, yaitu: Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabakusuma, Wijanarka, Anantadewa dan Bambang Sumbada. 

Abimanyu merupakan makhluk kekasih Dewata. Sejak dalam kandungan, ia telah mendapat “Wahyu Hidayat”, yang membuatnya mampu untuk mengerti segala hal. Dalam salah satu kisahnya diceritakan bahwa setelah dewasa, oleh karena kuat tapa bratanya Abimanyu mendapatkan “Wahyu Cakraningrat” (Wahyu Makutha Raja), wahyu yang menyatakan bahwa keturunannyalah yang akan menjadi penerus tahta para Raja Hastina.

Dalam olah keprajuritan dan seni perang, ia mendapat ajaran dari ayahnya, Arjuna. Sedang dalam olah ilmu kebathinan mendapat ajaran dari kakeknya, Bagawan Abiyasa. Abimanyu tinggal di kesatrian Palangkawati, setelah dapat mengalahkan Prabu Jayamurcita

Ia mempunyai dua orang istri, yaitu:

  • Dewi Siti Sundari, puteri Prabu Kresna, Raja Negara Dwarawati dengan Dewi Pratiwi;
  • Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yutisnawati, dari negara Wirata, dan berputera Parikesit. yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan Hastina, menggantikan Yudistira. Abimanyu gugur dalam perang Bharatayuda oleh gada Kyai Glinggang milik Jayadrata, satria Banakeling.
  1. Cerita Abimanyu Gendong

Pada suatu saat, Arjuna ingin pergi meninggalkan Kasatrian Madukara. Hal ini menyebabkan para Pandawa sedih, karena Dewi Subadra masih menyusui Abimanyu yang saat itu masih bayi. Tetapi tiba-tiba Prabu Baladewa, kakak Dewi Subadra, yang saat itu menjadi utusan Duryudana, datang ingin memboyong Abimanyu beserta Dewi Subadra ke Kerajaan Astina. Nampaknya Abimanyu tidak mau untuk diboyong ke Hastina, sehingga ia selalu menangis dan minta bunga Tunjungseta. Mendengar permintaan bayi itu, Drona berjanji untuk mengusahakannya.

Akhirnya Dewi Subadra dan Abimanyu diboyong Prabu Baladewa ke Astina. Mengingat akan keselamatan Abimanyu, maka Dewi Srikandi mengutarakan niatnya untuk ikut menyertai mereka. Tetapi Prabu Baladewa melarangnya sehingga terjadilah pertengkaran.

Setelah mereka sampai di tengah hutan, Patih Pragota diperintahkan Prabu Baladewa untuk membawa Abimanyu ke tengah hutan bersama keris Baladewa. Pragota tanggap akan apa yang dimaksud Prabu Baladewa, yaitu untuk membunuh Abimanyu. Tetapi karena tidak sampai hati, Abimanyu ditinggal sendirian di tengah hutan, dengan harapan, biarlah Abimanu mati dimakan binatang buas, asal bukan ia yang membunuh. Atas kehendak Dewata, di hutan itu justru Abimanyu dilindungi oleh seekor gajah, burung, dan ular.

Pada saat sudah tumbuh menjadi besar, Abimanyu yang tinggal sendirian di tengah hutan dan ia ingin buang hajad, tanpa sengaja, kotorannya mengenai Jaka Prayitna yang saat itu sedang bertapa. Karena rasa marah, Jaka Prayitna kemudian membunuh Abimanyu . Peristiwa itu membuat marah sang Gajah yang mengawal Abimanyu. Jaka Prayitna dikejar gajah, burung, dan ular, sampai akhirnya mereka bertemu dengan Arjuna, maka terjadilah peperangan.

Gajah kemudian berubah kembali kewujudnya yang sebenarnya yaitu Bima, sedangkan burung garuda menjadi Gatotkaca dan ular menjadi Antareja. Abimanyu yang sudah mati kemudian dihidupkan kembali oleh Arjuna, dan diminta pergi ke Astina bersama Jaka Prayitna untuk menemui Baladewa. Terjadilah peperangan antara Kurawa dengan Jaka Prayitna dan akhirnya Dewi Subadra dikembalikan kepada Arjuna.

3. Abimanyu Gugur

Dalam lakon Abimanyu gugur atau terkadang disebut Angkawijaya Gugur, yang tergolong lakon pakem, dan menjadi bagian dari serial lakon-lakon Baratayuda. Diceritakan tentang kegundahan Abimanyu karena ia tidak diijinkan turun ke gelanggang Baratayuda. Baru pada hari ke tigabelas, Abimanyu diperkenankan ikut berperang dan ia gugur dalam perang Bharatayuddha setelah sebelumnya seluruh saudaranya gugur mendahuluinya. 

Ketika tahu bahwa ketiga saudaranya, putra Arjuna lainnya, yakni Brantalaras, Bambang Sumitra, dan Wilugangga sudah gugur, Abimanyu tidak mampu mengontrol diri dan menjadi lupa untuk mengatur formasi perang. Ketiganya gugur terkena panah Begawan Drona. Inilah yang terutama membuat Abimanyu mengamuk, kehilangan kewaspadaan, dan akhirnya terjebak dalam perangkap siasat perang Kurawa.

Dalam pewayangan diceritakan, konon gugurnya Abimanyu oleh gadaKyai Glinggang atau Galih Asem milik Jayadrata, ksatria Banakeli, juga disebabkan termakan oleh sumpahnya sendiri ketika melamar Dewi Utari. Dulu, sebelum menikah dengan Dewi Utari, untuk meyakinkan bahwa ia masih belum punya istri atau perjaka, Abimanyu berkata: “Aku masih perjaka. Jika aku berkata tidak benar, biarlah kelak aku akan mati dengan tubuh penuh anak panah, ketika perang Bharatayudha.” Abimanyu berbohong, karena ketika itu ia sudah beristrikan Dewi Siti Sundari.

Pada hari itu, Arjuna dan Bima terpancing mengejar lawan-lawannya sampai keluar gelanggang, sehingga Abimanyu harus maju sendiri ketengah barisan Korawa dan akhirnya terperangkap dalam formasi mematikan yang sudah disiapkan pasukan Korawa, sehingga Abimanyu menjadi pusat sasaran musuh.

Malapetaka itu terjadi ketika satria Plengkawati itu hendak menolong pasukan pandawa yang terkepung rapat balatentara Korawa di Tegal Kuru Setra Dengan keberanian yang luar biasa ditunjang semangat yang menyala-nyala, diterjangnya barikade musuh hingga porak poranda dan pasukan Pandawa pun terbebas dari malapetaka yang nyaris menghancurkannya.

Namun rupanya si anak muda itu belum merasa puas, darah mudanya bergejolak, ia terus menghajar musuh seorang diri, meski sempat diperingatkan para Pandawa agar tidak meneruskan maksudnya, tapi peringatan itu tak digubrisnya. Ia malah terus memacu kereta kudanya melaju menggempur musuh hingga jauh menusuk jantung pertahanan Korawa. Akibatnya, perbuatan berani yang tidak disertai sikap kehati-hatian itu, berakibat fatal baginya.

Balatentara Korawa yang moralnya sudah bejat, tak berperikemanusiaan, curang telah menyalahi aturan perang. Pihak Kurawa yang lebih unggul dalam pengalaman taktik strategi perang, telah memasang perangkap yang disebut Durgamarungsit, yaitu sebuah perangkap semacam bubuyang apabila orang masuk ke dalamnya tak akan bisa keluar lagi. Siasat itu ditambah lagi dengan perangkap yang lebih berbahaya lagi yaitu perangkap Gelar Maha Digua semacam pintu jebakan. Di setiap balik pintu telah bersembunyi sebagai algojo.

Di situlah si anak muda belia itu dibantai, dibokong dari belakang, dihimpit dari pinggir, dihadang dari depan serta dihujani berbagai rupa senjata hingga badannya menjadi arang kerancang. Anak yang masih ingusan itu diperlakukan bak binatang buruan, dikepung dan dibantai oleh orang-orang yang sebenarnya tidak layak untuk menjadi lawannya.

Akibatnya, anak muda itu tewas secara tragis, setelah kepalanya dihantam gada Kyai Glinggang milik Jayadrata dari belakang, dengan tubuh penuh luka. Namun gugurnya Abimanyu disertai keberhasilannya membunuh Lesmana Mandrakumara, alias Sarojakusuma, putra mahkota Astina. Putra Mahkota Astina itu mati ketika hendak mencoba menjadi pahlawan dengan membunuh Abimanyu yang telah terkepung.

Arjuna sangat terpukul jiwanya, mendengar berita kematian Abimanyu. Ia tampak lesu dan tak bergairah lagi, hingga membuat para Pandawa prihatin, mengingat Arjuna adalah andalan dalam perang itu. Menyadari situasi yang tidak menguntungkan, Kresna memberi wejangan: “Adikku, sedih, nelangsa, sakit hati sudah lumrah dalam hidup ini. Itu pertanda kita masih memiliki perasaan. Tetapi janganlah kesedihan itu berlarut-larut hingga menghambat perjuangan yang sedang kita hadapi. Tabahkanlah hati adinda menghadapi cobaan ini. Gugurnya Abimanyu tidaklah sia-sia, dia telah membuktikan dirinya sebagai pejuang muda yang gagah perkasa pantang menyerah. Dia gugur sebagai kusuma bangsa yang akan dikenang sepanjang masa,” ujarnya.

Wejangan Kresna itu memberi pengertian, bahwa apa pun yang terjadi walau pahit dirasakannya, hendaknya diterima dengan kebesaran jiwa sebagai tolak ukur atas kelebihan dan kekurangan manusia. hati Arjuna terusik mendengar wejangan itu lalu berkata: “Duh kanda Batara. hamba bukan sedih karena kematian anak. Hamba hanya tak rela mendengar ‘cara’ kematian anak hamba. Hamba yakin dia pun tak rela mati dengan cara sedemikian. Dia seolah tersentak diperlakukan bagai binatang buruan, dikepung dan dibantai oleh orang-orang yang hanya pantas menjadi lawan hamba. Mereka orang-orang sakti tapi tak manusiawi. Dimana moral mereka?

Karena itu hamba akan menuntut balas,” ujarnya penuh rasa dendam.

Di saat itu pula emosinya sudah tak terbendung lagi dan tidak seorang pun menduga, ketika dengan tiba-tiba Arjuna berdiri tegak mengangkat senjata tinggi-tinggi seraya berkata: “Wahai bumi dan langit, wahai semua yang hidup, aku bersumpah dan minta kesaksianmu, bahwa esok hari sebelum matahari terbenam aku sudah harus membunuh si kelana Jayadrata. Jika aku gagal, aku akan masuk ke dalam Pancaka.” (Pancaka api unggun yang sengaja dibuat untul lebih geni). Usai sumpah, seketika terdengar suara dari empat penjuru disertai angin kencang bergemuruh, kilat-kilat menggelegar, pertanda sumpah Arjuna telah didengar dan bumi langit menjadi saksinya. Gegerlah para Pandawa disertai keprihatinan menyaksikan peristiwa yang tak diduga itu.

Mengkaji sumpah Arjuna berawal dari perasaan dendam yang mendalam, memprotes perlakuan Kurawa yang di luar batas kemanusiaan, telah mendorong sifat keakuannya untuk berbuat sesuatu yang di luar batas kemampuannya, membunuh seseorang dalam waktu yang relatif singkat sebelum matahari terbenam di ufuk barat. Itu adalah suatu kesanggupan yang tidak normal dan pasti akan menjadi beban moril yang amat berat. Akal dan pikiran sehat sudah tidak berfungsi.

Tujuan akan menghabisi Jayadrata dalam waktu sehari sebelum matahari tenggelam ke peraduannya hanya merupakan impian belaka. Selain memiliki taktik perang yang sangat baik, banyak pula para guru di pihak Korawa yang sangat terkenal, utamanya Danghyang Dorna yang juga melindunginya. Terlalu sulit untuk dapat ditembus hanya oleh keberanian dan kekuatan fisik semata.

Mendengar hal ini, Dorna telah membuat sebuah benteng yang kuat bagai baja, terdiri dari ribuan balatentara Korawa dan di situlah Jayadrata disembunyikan. Meskipun seandainya dari beberapa lapis benteng ini dapat dihancurkan, namun beratus lapis lagi masih berdiri dengan kokohnya.

Sementara sang surya sudah semakin condong ke arah barat mendekati peraduannya. Untunglah Arjuna memiliki seseorang yang mampu mengubah suasana alam. Kresna segera menutup sinar matahari dengan senjata andalannya, Cakra, hingga suasana alam seakan sedang petang. Bersoraklah kaum Kurawa kegirangan, karena Arjuna telah gagal membunuh Jayadrata dalam waktu sehari sebelum matahari terbenam.

Kegembiraan semakin menjadi tatkala dilihatnya api unggun telah menyala berkobar menerangi alam sekelilingnya. Mereka ingin menyaksikan Arjuna terjun ke dalam api unggun memenuhi sumpahnya. Tetapi tidak seorang pun yang tahu, bahwa Arjuna telah berada di atas bukit yang tak jauh dari benteng tempat Jayadrata bersembunyi dan telah siap sedia dengan senjata panahnya.

Mendengar sorak sorai dan berkobarnya api unggun bagaikan api neraka yang akan melumat habis Arjuna, Jayadrata tertarik ingin ikut menyaksikan. Kemudian tanpa rasa curiga, ia pun memperlihatkan diri. Tetapi baru saja kepalanya menyembul, sebuah anak panah melesat bagai kilat dan… craaasss …, terpangkaslah kepalanya, terpisah dari badannya larut terbawa angin dan lenyap ditelan awan. Seiring dengan itu, alam petang berubah menjadi terang benderang kembali, setelah senjata Cakra diambil oleh pemiliknya.

Gegerlah kaum Korawa menyaksikan kejadian yang tak masuk di akal itu. Hanya Dorna yang tanggap dan mengerti seraya berucap: “Hemmm, memang segala-galanya ada di pihak Pandawa. Kemenangan akhir pun akan diraih oleh mereka,” gumannya

4. Abimanyu Grogol

Dalam suatu kisah diceritakan bahwa pada saat Abimanyu berada di Tegalkuru, ia membuat sebuah pesanggarahan. Ulah Abimanyu itu membuat marah Duryudana, penguasa Astina. Atas bantuan Begawan Pramanasejati, Abimanyu dikutuk menjadi arca. Sementara di Kasatrian Madukara, Dewi Subadra meminta kepada Arjuna untuk mencari Abimanyu.

Pada saat yang sama, Wisanggeni dari Kahyangan Argadahana dan Prabangkara dari Kaindran ingin mencari ayahnya. Di tengah jalan mereka bertemu Gatotkaca yang meminta bantuannya untuk menolong Abimanyu yang telah menjadi arca, karena kutukan Begawan Pramanasejati. Wisanggeni kemudian memoleskan minyak Candusektipada arca itu dan Abimanyu menjadi hidup kembali. Selanjutnya mereka menuju ke Kerajaan Astina dan bertemu dengan Arjuna.

Arjuna kemudian berperang tanding melawan Begawan Pramanasejati tetapi tidak dapat mengalahkan. Akhirnya Kresna minta bantuan Semar untuk mengalahkan Pramanasejati, sehingga kembali berubah menjadi wujudnya yang semula yaitu Batari Durga dan pulang ke Setra Gandamayit. 

Kakawin Bharatayuddha

Kutipan di bawah ini diambil dari Kakawin Bharatayuddha, yang menceritakan pertempuran terakhir Sang Abimanyu.

Sloka Terjemahan
Ngkā Sang Dharmasutā təgəg mulati tingkahi gəlarira nātha Korawa, āpan tan hana Sang Wrəkodara Dhanañjaya wənanga rumāmpakang gəlar. Nghing Sang Pārthasutābhimanyu makusāra rumusaka gəlar mahā dwija, manggəh wruh lingirāng rusak mwang umasuk tuhu i wijili rāddha tan tama Pada saat itu Yudistira tercengang melihat formasi perang Raja Korawa, sebab Bima dan Arjuna tak ada padahal merekalah yang dapat menghancurkannya. Hanya Putera Arjuna, yaitu Abimanyu yang bersedia merusak formasi yang disusun pendeta Drona itu. Ia berkata bahwa ia yakin dapat menggempur dan memasuki formasi tersebut, hanya saja ia belum tahu bagaimana cara keluar dari formasi tersebut.
Sāmpun mangkana çighra sāhasa masuk marawaça ri gəlar mahā dwija. Sang Pārthātmaja çūra sāra rumusuk sakəkəsika linañcaran panah, çira ngwyuha lilang təkap Sang Abhimanyu təka ri kahanan Suyodhana. ang Hyang Droa Krəpāpulih karaa Sang Kurupati malayū marīnusi. Setelah demikian, mereka segera membelah dan menyerang formasi pendeta Drona tersebut dengan dahsyat. Sang Abimanyu merupakan kekuatan yang membinasakan formasi tersebut dengan tembakan panah. Sebagai akibat serangan Abimanyu, formasi tersebut hancur sampai ke pertahanan Duryodana. Dengan ini Dona dan Krepamengadakan serangan balasan, sehingga Duryodana dapat melarikan diri dan tidak dikejar lagi.
da tan dwālwang i çatru çakti mangaran Krətasuta sawatək Wrəhadbala. Mwang Satyaçrawa çūra mānta kəna tan panguili pinanah linañcaran. Lāwan wīra wiçesha putra Kurunātha mati malara kokalan panah. Kyāti ng Korawa wangça Lakshmanakumāra ngaranika kaish Suyodhana. Dengan ini tak dapat dipungkiri lagi musuh yang sakti mulai berkurang seperti Kretasuta dan keluarga Wrehadbala. Juga Satyaswara yang berani dan gila bertarung tertembak sebelum dapat menimbulkan kerusakan sedikit pun karena dihujani panah. Putera Raja Korawa yang berani juga gugur setelah ia tertusuk panah. Putera tersebut sangat terkenal di antara keluarga Korawa, yaitu Laksmanakumara, yang disayangi Suyodhana.
Ngkā ta krodha sakorawālana manah panahira lawan açwa sarathi. Tan wāktān tang awak tangan suku gigir aa wadana linaksha kinrəpan. Mangkin Pārthasutajwalāmurək anyakra makapalaga punggəling laras. Dhīramūk mangusir ỵaçānggətəm atễn pəjaha makiwuling Suyodhana. Pada waktu itu seluruh keluarga Korawa menjadi marah, dan dengan tiada hentinya mereka memanahkan senjatanya. Baik kuda maupun kusirnya, badan, tangan, kaki, punggung, dada, dan muka Abimanyu terkena ratusan panah. Dengan ini Abimanyu makin semangat. Ia memegang cakramnya dan dengan panah yang patah ia mengadakan serangan. Dengan ketetapan hati ia mengamuk untuk mencari keharuman nama. Dengan hati yang penuh dendam, ia gugur di tangan Suyodhana.
Ri pati Sang Abhimanyu ring raāngga. Tənyuh araras kadi çéwaling tahas mas. Hanana ngaraga kālaning pajang lèk. Çinaçah alindi sahantimun ginintən. Ketika Abimanyu terbunuh dalam pertempuran, badannya hancur. Indah untuk dilihat bagaikan lumut dalam periuk emas. Mayatnya terlihat dalam sinar bulan dan telah tercabik-cabik, sehingga menjadi halus seperti mentimun.

Baca Artikel Lainnya:

Mengenal Tentang Abimanyu

Mengenal Tentang Abimanyu

Mengenal Tentang Abimanyu

Mengenal Tentang Abimanyu

Mengenal Tentang Abimanyu

Abimanyu

(Parthasuta atau Partha Atmaja) dalam kisah Mahabharataadalah putera Arjuna dari salah satu istrinya yang bernama Subadra. Abimanyu sebenarnya adalah inkarnasi dari putera Dewa bulan. Ketika Sang Dewa bulan ditanya oleh dewa yang lain mengenai kepergian puteranya ke bumi, ia mengatakan bahwa puteranya hanya akan tinggal di dunia mayapada selama 16 tahun. Karena, ia sendiri tidak tahan jika berpisah terlalu lama dengan puteranya.

Abimanyu berusia 16 tahun saat ia terbunuh dalam pertempuran di medan laga Bharatayudha. Sebenarnya Abimanyu-lah yang ditetapkan sebagai penerus tahta Yudistira. Tetapi sayangnya Ia tewas secara tragis dalam pertempuran besar di Kurukshetra dan menjadi pahlawan serta kesatriatermuda dari pihak Pandawa, karena waktu itu ia baru berusia enam belas tahun. 

Abimanyu menikah, dalam usia yang juga masih sangat muda, dengan puteri Raja Wirata yang bernama Utara. Dari hasil pernikahannya ini, ia memiliki seorang putera bernama Parikesit. Abimanyu tidak sempat melihat wajah putranya karena Parikesit lahir setelah Abimanyu gugur.

Parikesit menjadi satu-satunya kesatria Keluarga Kuru yang selamat setelah perang Bharatayuddha berakhir. Parikesitlah yang akhirnya melanjutkan garis keturunan Pandawa. Abimanyu seringkali dianggap sebagai kesatria yang terberani dari pihak Pandawa, yang sudi melepaskan hidupnya dalam suatu peperangan, meskipun usianya masih sangat muda.

Arti nama

Abimanyu dalam bahasa Sanskerta, berarti abhi (berani) dan man’yu(tabiat). Jadi menurut bahasa Sansekerta, kata Abhiman’yu secara harfiah berarti “orang yang memiliki sifat pemberani, tidak kenal takut” atau “yang memili sifat kepahlawanan”. Abimanyu mempunyai sikap yang halus, baik tingkah lakunya, ucapannya terang, tetapi memiliki hati atau kemauan yang keras, besar tanggung jawabnya dan pemberani. 

Kelahiran dan pendidikan 

Dalam kisah Mahabharata, Abimanyu diceritakan bahwa ia telah mempelajari formasi perang Chakrawyuha, suatu formasi perang yang sulit untuk ditembus. Abimanyu mempelajari formasi tersebut tatkala ia masih berada di dalam kandungan rahim ibunya. Abimanyu mempelajari taktik perang tersebut dengan cara menguping pembicaraan Kresna yang sedang membahas hal tersebut dengan ibunya, Subadra. Kresna membicarakan mengenai bagaimana cara memasuki formasi Chakrawyuha. 

Tetapi ketika Kresna membicarakan cara meloloskan diri dari formasi mematikan tersebut, Subadra, ibu Abimanyu, sudah tidak kuat lagi menahan kantuk yang menyerangnya dan jatuh tertidur sehingga sang bayi tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.

Masa Kecil

Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwaraka, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya, Arjuna, yang juga merupakan seorang ksatria besar dan diasuh di bawah bimbingan Kresna. Ayahnya menikahkan Abimanyu dengan Uttara, puteri Raja Wirata, untuk mempererat hubungan antara Pandawa dengan keluarga Raja Wirata dan sebagai persiapan  guna menghadapi pertempuran Bharatayuddha yang akan datang. Pada saat itu Pandawa sedang menyamar untuk menuntaskan masa pembuangannnya di kerajaan Raja Wirata, yaitu Matsya.

Sebagai cucu Dewa Indra, Dewa senjata ajaib sekaligus Dewa peperangan, Abimanyu merupakan ksatria yang gagah berani dan ganas. Karena kemampuannya yang kurang lebih setara dengan ayahnya, Abimanyu pun mampu melawan ksatria-ksatria besar seperti Drona, Karna, Duryodana dan Dursasana. Ia dipuji karena keberaniannya dan memiliki rasa setia yang tinggi terhadap ayahnya, pamannya, dan segala keinginan mereka. 

Abimanyu gugur

Ketika perang Bharatayudha memasuki hari ketiga belas, pihak Korawamenantang Pandawa untuk mematahkan formasi perang melingkar yang dikenal sebagai Chakrawyuha. Para Pandawa menerima tantangan tersebut karena Kresna dan Arjuna tahu bagaimana cara mematahkan berbagai formasi perang, termasuk formasi Chakrawyuha tersebut.

Karena pihak Korawa tahu bahwa yang bisa mematahkan formasi tersebut adalah Arjuna dan Kresna, maka sejak pagi mereka mencoba untuk menyerang dan menahan Arjuna dan Kresna agar jangan sampai memasuki formasi Chakrawyuha. Kresna dan Arjuna dibuat sibuk bertarung dengan laskar Samsaptaka

Oleh karena Pandawa sudah menerima tantangan tersebut, mereka tidak memiliki pilihan kecuali mengutus Abimanyu yang memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara mematahkan formasi Chakrawyuha. 

Namun sayang Abimanyu masih terlalu muda dan belum tahu bagaimana cara keluar dari dalamnya. Untuk menjaga dan melindungi Abimanyu agar tidak terperangkap dalam formasi tersebut, Pandawa bersaudara memutuskan bahwa mereka dan sekutu mereka akan ikut masuk dalam formasi itu bersama Abimanyu sekaligus agar dapat membantu sang pemuda, keluar dari formasi tersebut.

Pada hari yang sudah ditentukan, Abimanyu menggunakan kecerdikannya untuk menembus formasi tersebut. Pandawa bersaudara dan sekutunya mencoba untuk mengikutinya di dalam formasi, namun mereka dihadang oleh Jayadrata, Raja Sindhu. Jayadrata memang mendapat anugerah Siwa untuk dapat menahan para Pandawa selama perang Bharatayudha, kecuali Arjuna, meskipun hanya untuk satu hari. 

Pasukan Pandawa pun dibuat kocar-kacir oleh Jayadrana. Banyak ksatria dari pasukan Pandawa yang gugur dan menjadi korban Jayadrana, termasuk ketiga saudaranya, putra Arjuna dari ibu yang lain. Ketika tahu bahwa saudara-saudaranya banyak yang sudah gugur Abimanyu menjadi lupa untuk mengatur formasi perang, dia maju sendiri ketengah barisan Korawa untuk menangkis serangan pasukan Korawa. Tapi sayang ia terperangkap dalam formasi mematikan yang disiapkan pasukan Korawa tersebut. 

Meskipun demikian, Abimanyu berperang dengan gagah berani dan berhasil membunuh beberapa ksatria yang mendekatinya, termasuk putera Duryodana, yaitu Laksmana. Abimanyu membunuh Laksmana dengan cara melemparkan keris Pulanggeni miliknya, dimana sebelumnya keris ini terlebih dahulu menembus tubuh empat prajurit lainnya. 

Setelah mendengar dan menyaksikan putera kesayangannya terbunuh, Duryodana menjadi marah besar dan menyuruh pasukan Korawa untuk secara bersama-sama menyerang Abimanyu. Upaya pasukan Korawa untuk membunuh Abimanyu mengalami kesulitan dengan adanya baju zirah yang dikenakan Abimanyu. 

Karena gagal menghancurkan baju zirah Abimanyu, atas nasihat Drona, Karna menghancurkan busur Abimanyu dari belakang. Kemudian keretanya pun dihancurkan, sehingga seluruh senjatanya terbuang. Kusir dan kudanya pun dibunuh, sedangkan Abimanyu jatuh terjerembab dari kereta kudanya. Melihat hal itu, putera Dursasana mencoba untuk bertarung dengan Abimanyu menggunakan tangan kosong. 

Tetapi pasukan Korawa tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.  Tanpa menghiraukan aturan perang, mereka mengeroyok Abimanyu secara serentak. Mereka tahu bahwa untuk membunuh Abimanyu, mereka terlebih dahulu harus berhasil melepas baju ziarah (Langsang), yang menempel di dada Abimanyu.  Mereka kemudian menghujani tubuh Abimanyu dengan berbagai macam senjata. Abimanyu mencoba untuk bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang ia pakai sebagai perisai hancur berkeping-keping. 

Abimanyu menjadi tampak seperti landak, karena berbagai senjata yang menancap di tubuhnya. Ia tidak lagi bisa berjalan, karena luka di tubuhnya sangat banyak, dalam pewayangan digambarkan lukanya arang kranjang= banyak sekali. Tak berapa lama kemudian, Abimanyu terbunuh oleh putera Dursasana dengan cara menghancurkan kepalanya dengan gadamilik Jayadrata.  

Arjuna membalas dendam

Berita kematian Abimanyu membuat hati Arjuna tersentak. Ia menjadi sangat sedih dan marah. Ia sadar, bahwa seandainya Jayadrata tidak menghalangi para Pandawa memasuki formasi Chakrawyuha, Abimanyu pasti akan mendapat bantuan. Ia kemudian bersumpah dengan suara nyaring,sehingga semua orang mendengar, bahwa ia akan membunuh Jayadrata pada hari berikutnya, sebelum matahari tenggelam. 

Mendengar hal itu, keesokan harinya, pihak Korawa menempatkan Jayadrata sangat jauh dari Arjuna. Ribuan prajurit dan ksatria diperintahkan untuk mengelilingi dan melindungi Jayadrata. Sedang Arjuna tetap berusaha menjangkau Jayadrata, namun ribuan pasukan Korawa mengahalanginya. Hingga matahari hampir terbenam, Jayadrata masih jauh dari jangkauan Arjuna. 

Melihat hal ini, Kresna menggunakan kecerdikannya. Ia membuat gerhana matahari, sehingga suasana tampak menjadi gelap, seolah-olah matahari sudah tenggelam. Pihak Korawa maupun Pandawa mengira hari sudah menjelang malam, dan sesuai aturan, mereka menghentikan peperangan dan kembali ke kubu masing-masing. Dengan demikian, pihak Korawa tidak melanjutkan pertarungan dan mengendorkan penjagaan serta perlindungan mereka terhadap Jayadrata. 

Saat itulah Kresna mengarahkan kereta Arjuna untuk mendekati kereta Jayadrata. Setelah kereta Arjuna yang dikusiri Kresna sampai di dekat kereta Jayadrata, matahari muncul lagi dan Kresna menyuruh Arjuna agar menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Jayadrata. Arjuna mengangkat busurnya dan meluncurkan panah, memutus leher Jayadrata. Tepat pada saat tersebut, hari sudah sore, matahari sudah tenggelam dan Arjuna berhasil menuntaskan sumpahnya untuk membunuh Jayadrata.

 

(Sumber: https://pengajar.co.id/)

Mengenal Tentang Jenis Angin Musim

Mengenal Tentang Jenis Angin Musim

Mengenal Tentang Jenis Angin Musim

Mengenal Tentang Jenis Angin Musim

Mengenal Tentang Jenis Angin Musim

  1. Angin Passat

Angin Passat adalah angin yang bertiup secara tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Angin Passat terdiri dari Angin Passat Timur Laut yang bertiup di belahan bumi Utara dan Angin Passat Tenggara yang bertiup di belahan bumi Selatan.

Kedua jenis angin Passat ini bertemu di sekitar khatulistiwa. Karena temperatur di daerah tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT). DKAT ditandai dengan temperatur yang selalu tinggi. Akibat kenaikan massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari adanya angin topan. Akibatnya daerah ini dinamakan daerah doldrum (wilayah tenang).

2. Angin Anti Passat

Angin Anti Passat adalah udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik. Di belahan bumi utara disebut Angin Anti Passat Barat Daya dan di belahan bumi selatan disebut Angin Anti Passat Barat Laut. Pada daerah sekitar lintang 20  – 30  LU dan LS, angin anti passat kembali turun secara vertikal sebagai angin yang kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya, terbentuk padang gurun di muka bumi, misalnya padang gurun di Arab Saudi, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia.

Di daerah Subtropik (30  – 40  LU dan LS) terdapat daerah “teduh subtropik” yang udaranya tenang, turun dari atas, dan tidak ada angin. Sedangkan di daerah ekuator antara 10  – 10  LU dan LS terdapat juga daerah tenang yang disebut ”daerah teduh ekuator” atau “daerah doldrum”

  1. Angin Barat

    Sebagian udara yang berasal dari daerah maksimum subtropis utara dan selatan akan mengalir ke daerah sedang utara dan daerah sedang selatan sebagai Angin Barat. Pengaruh angin barat di belahan bumi utara tidak begitu terasa, karena adanya hambatan dari benua. Di belahan bumi selatan pengaruh angin barat ini sangat besar, tertama pada daerah lintang 60  LS. Di sini angin barat bertiup yang sangat kencang, yang oleh pelaut-pelaut disebut roaring forties.

    4. Angin Timur

    ̊Di daerah kutub utara dan kutub selatan bumi terdapat daerah dengan tekanan udara maksimum. Dari daerah ini mengalirlah angin yang disebut Angin Timur ke daerah minimum subpolar (60  LU dan LS). Angin timur ini bersifat dingin karena berasal dari daerah kutub.

    5. Angin Muson (Monsun)

Angin muson adalah angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan yang lain, polanya dan arahnya akan berlawanan setiap 6 bulan. Umumnya, pada 6 bulan pertama, bertiup angin darat yang kering dan 6 bulan berikutnya, bertiup angin laut yang basah.

Pada bulan Oktober – April, matahari berada pada belahan langit selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari daripada benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia menuju ke benua Australia.

Di Indonesia, angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi utara dan angin musim Barat di belahan bumi selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan.

Musim penghujan meliputi seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. makin ke timur curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit.

Pada bulan April-Oktober, matahari berada di belahan langit utara, sehingga benua Asia lebih panas daripada benua Australia. Akibatnya, di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah, sedangkan di Australia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya angin dari Australia menuju  ke Asia.

Pada saat itu di Indonesia akan terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh kerena tidak melewati lautan yang luas maka angin tidak banyak mengandung uap air, oleh karena itu pada umumnya di Indonesia terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat Sumatera, Sulawesi Tenggara, dan pantai selatan Papua.

Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba (peralihan), yaitu : musim kemareng yang merupakan peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, dan musim labuh yang merupakan peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Adapun ciri-ciri musim pancaroba yaitu: udara terasa panas, arah angin tidak teratur dan terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu singkat dan lebat.

 

(Sumber: https://thesrirachacookbook.com/)

Huawei Tertarik Jual Modem 5G

Huawei Tertarik Jual Modem 5G

Huawei Tertarik Jual Modem 5G

Huawei Tertarik Jual Modem 5G

Huawei Tertarik Jual Modem 5G

Belakangan ini, Apple dikabarkan

tengah mengalami masalah dalam pengadaan modem 5G untuk perangkat iPhone miliknya. Raksasa teknologi asal Cupertino tersebut dikabarkan akan meluncurkan iPhone 5G pada 2020. Namun menurut laporan baru-baru ini mengklaim bahwa iPhone 5G mungkin akan diluncurkan pada 2021.

Dilansir dari laman Ubergizmo, Rabu (10/4/2019)

jika hal tersebut benar maka hadirnya iPhone 5G bagi Apple akan sangat lambat. Melihat keprihatinan ini, Engadget melaporkan jika Huawei dikabarkan akan memikirkan untuk menjual modem 5G kepada Apple.

Untuk diketahui, Huawei memang telah aktif membuat chipset sendiri selama bertahun-tahun, meskipun sebagian besar telah terbatas pada handset sendiri, tetapi sekarang tampaknya Huawei terbuka untuk menjualnya ke Apple.

 

Ini menarik karena tampaknya Apple adalah

satu-satunya perusahaan yang Huawei lirik untuk menjual teknologi 5G mereka. Meskipun demikian, alasan Huawei hanya menargetkan Apple masih belum diketahui.

 

Namun ada kemungkinan ini juga karena pertengkaran antara Apple

dan Qualcomm serta ada anggapan hilangnya kepercayaan pada Intel yang dulu seharusnya mengembangkan modem 5G untuk iPhone dan siapa yang masih berpotensi membuat batas waktu 2020.

Tidak ada jaminan bahwa ini akan berjalan karena sementara Huawei tampaknya terbuka untuk ide itu. Belum diketahui bagaimana sikap Apple dan apakah mereka mungkin tertarik dalam sumber komponen dari Huawei.

Baca Juga :