Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bagi Indonesia

Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bagi Indonesia

Siapa di antara kamu yang dulu mendengar kata MEA? Iya MEA, tapi ini beda ya serupa pacarnya Dilan. Itu, mah, Milea.

MEA merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yang merupakan keliru satu perwujudan dari kerja serupa antaranggota ASEAN khususnya di bidang ekonomi. Wih, keren ya? Untuk mewujudkan MEA, ASEAN sudah melaksanakan 3 kali Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), lho yaitu KTT terhadap th. 1997, KTT th. 2003, dan KTT th. 2006.

Hasil dari ketiga KTT ini, MEA merasa dibentuk dan diberlakukan terhadap th. 2015. Pembentukan MEA ini dilandaskan terhadap empat pilar, yaitu:

Keempat pilar inilah yang merupakan tujuan dari diadakannya MEA. Kembali ke topik utama kita, bagaimana sih efek MEA ini bagi Indonesia? Hmm, pasti ada efek positif maupun negatifnya ‘kan?

Aspek perdagangan

Dampak positif setelah kedatangan MEA dirasakan oleh aspek perdagangan. Kok dapat gitu? Karena dengan terdapatnya MEA, segala hambatan perdagangan jadi berkurang lebih-lebih tidak ada. Tidak hanya itu, dengan dilaksanakannya MEA, khususnya di indonesia, dapat terjadi peningkatan kapasitas ekspor product lokal ke mancanegara dan menaikkan devisa negara.

Nah, devisa negara ini berfungsi untuk membayar utang-utang negara kita, lho. Jadi lama-kelamaan pinjaman negara kita dapat lunas. Mantap!

Aspek investasi

Lanjut, aspek yang terkena efek positif lain dari MEA ini adalah aspek investasi. MEA beri tambahan akses lebih ringan untuk para investor supaya secara langsung dan tanpa hambatan dapat menjalankan investasinya di beraneka sektor, khususnya sektor ekonomi. Selain itu, kehadiran MEA mengakibatkan makin lama luas dan lebarnya kesempatan wirausaha yang kreatif dan berdaya saing tinggi.

Bidang ketenagakerjaan

Bidang ketenagakerjaan juga terkena efek positif dari MEA. Dengan kehadiran MEA, maka masyarakat dapat mengupayakan menaikkan mutu serta keterampilan spesial supaya dapat bersaing dengan masyarakat dari negara ASEAN lainnya. Selain itu, masyarakat Indonesia juga “di[paksa” untuk berpikir lebih terbuka terhadap pergantian sosial budaya yang ada.

Nah, kamu sudah jelas kan efek positifnya? Tidak hanya efek positif yang diberikan oleh MEA, tapi ada juga beberapa efek negatif khususnya bagi mereka yang tidak siap terhadap suatu pasar bebas di kawasan Asia tenggara. Yuk, sekarang kamu pelajari juga efek negatifnya!

Segi kompetisi

Dampak negatif yang pertama dari MEA adalah meningkatnya kompetisi/persaingan terhadap produk-produk di dalam negeri dan luar negeri. Tahukah kamu kenapa alasannya? Hal ini terjadi karena berkurangnya hambatan dan tidak ada kembali batasan lokasi terhadap barang dan jasa yang beredar di kawasan Asia Tenggara.

Jadi, bakalan banyak product impor yang dapat ada di pasar tradisional kita nantinya lho. Hal ini dapat berdampak terhadap terancamnya posisi industri lokal, karena tidak sedikit product luar negeri yang mempunyai mutu lebih baik dibanding dengan product lokal.

Segi eksploitasi

Kamu tadi sudah baca ‘kan efek positif MEA terhadap peningkatan dan kemudahan investasi asing? Nah, masuknya investasi asing bagi tiap negara ini mempunyai efek negatif lho. Yaitu karena pasti terdapatnya suatu eksploitasi terhadap sumber kekuatan alam maupun sumber kekuatan manusia. Terutama di indonesia, yang mempunyai banyak sumber kekuatan alam tapi tidak dapat diolah sendiri, perihal ini dapat dieksploitasi oleh perusahaan asing yang ada.

Bidang ketenagakerjaan

Memang dengan terdapatnya MEA berdampak terhadap peningkatan kesempatan kerja, tapi kondisi ini beri tambahan efek negatif. Dampak negatif di bidang ketenagakerjaan adalah seperti meningkatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan khususnya di di dalam negeri. Karena para pencari kerja bukan hanya dapat bersaing dengan masyarakat lokal, tapi juga dengan masyarakat internasional. Sehingga, mutu dan keterampilan yang dimiliki oleh tiap tiap masyarakat indonesia kudu dapat bersaing dengan masyarakat luar.

Selengkapnya : https://www.biologi.co.id/

5 Peluang Karier Guru Selain Mengajar di Kelas

5 Peluang Karier Guru Selain Mengajar di Kelas

Bapak/Ibu Guru dulu terasa jenuh atau letih didalam mengajar? Atau terasa kariernya tidak berkembang? Rasa jenuh sudah pasti sangat lumrah untuk dirasakan tiap tiap orang dari beraneka profesi. Nah sebagai guru, Bapak/Ibu sebetulnya mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan karier serta menanggulangi rasa bosan, lho. Seorang guru tidak kembali terbatas cuma mengajar di kelas saja, mereka bisa jadi guru privat, bekerja di dinas pendidikan, sampai jadi guru online. Tidak cuma itu, guru termasuk bisa terus mengembangkan dirinya untuk menghadapi perubahan zaman, terasa dari teknologi termasuk kebijakan pemerintah, lewat banyak platform digital. So, apa saja ya kesempatan karier yang bisa guru coba di jaman mendatang? Yuk, kami simak!

1. Menjadi guru online

Kemajuan teknologi memungkinkan sistem belajar mengajar tidak wajib dilaksanakan secara langsung bersama dengan tatap muka. Bapak/Ibu Guru termasuk mempunyai kesempatan untuk mengajar secara online. Hanya bersama dengan koneksi internet, siswa bisa memperoleh seluruh informasi yang dibutuhkan sampai mereka bisa mengetahui rencana bersama dengan baik. Kegiatan belajar yang dilaksanakan secara individu membawa dampak siswa bisa menyesuaikannya bersama dengan kapabilitas diri masing-masing. Bapak/Ibu termasuk bisa memperoleh banyak ragam faedah bersama dengan jadi pengajar online, seperti sementara yang lebih fleksibel dan kesempatan untuk membagikan ilmu ilmu ke jutaan siswa didalam satu waktu.

2. Menjadi penulis blog pendidikan

Internet telah menambahkan banyak pengaruh positif di beraneka bidang, termasuk pendidikan. Melalui internet, siswa bisa bersama dengan mudah melacak banyak ragam materi pelajaran didalam beraneka format yang bisa dibuka gratis. Salah satunya adalah lewat blog pendidikan. Banyak blogger yang mengelola blog pendidikan yang sangat berfungsi dan memadai informatif.

Menulis blog bisa menambahkan sebagian faedah untuk Bapak/Ibu Guru, seperti jadi penulis yang lebih baik, menghubungkan bersama dengan lebih banyak guru yang sangat pikirkan bersama dengan pengembangan dirinya, dan menambahkan pandangan yang lebih parah terhadap teknik mengajar. Melalui blog, Bapak/Ibu bisa membagikan materi pelajaran, tips belajar, sampai info terkini terkait dunia pendidikan.

3. Menerbitkan buku

Tidak cuma menulis blog, Bapak/Ibu termasuk bisa menerbitkan hasil tulisannya ke didalam sebuah buku. Dengan menulis buku, Bapak/Ibu Guru termasuk bisa membangun citra diri sebagai seorang yang berwawasan, punya intelektualitas tinggi, dan seorang guru yang berkualitas. Bahkan lewat postingan yang diterbitkan, kami bisa punya banyak relasi yang kadang-kadang tidak kami duga. Tidak cuma murid Bapak/Ibu sendiri, sementara banyak orang bahagia dan nikmati postingan yang diterbitkan, maka kepercayaan diri secara tidak langsung termasuk dapat meningkat. Berhasil menerbitkan sebuah buku termasuk bisa jadi sumber keuntungan finansial untuk Bapak/Ibu, terasa dari honor yang tidak sedikit dan royalti dari hasil penjualan buku.

4. Tonjolkan diri bersama dengan membawa dampak Podcast

Podcast merupakan rekaman asli audio yang bisa didengarkan oleh siswa di manapun dan kapanpun sementara mereka menginginkannya. Melalui Podcats Bapak/Ibu bisa memilih kategori pelajaran apa yang inginkan diberikan. Cara ini bisa memudahkan Bapak/Ibu untuk share ilmu dikarenakan lewat Podcast materi yang disampaikan bisa didengar oleh lebih banyak orang dibandingkan bersama dengan cuma mengajar di kelas yang terbatas. Saat ini, Podcast termasuk telah tambah dikenal dikarenakan pembuatannya yang jauh lebih mudah dan tidak perlu investasi yang besar. Podcast adalah langkah yang sangat efektif untuk menjangkau banyak pendengar. Contohnya saja pembelajaran sains bersama dengan menggunakan Podcast sebagai medianya telah banyak digunakan di luar negeri.

5. Menjadi guru privat

Les spesial jadi keliru satu bentuk bimbingan belajar mandiri yang memadai diminati oleh siswa maupun orang tua, dikarenakan bersama dengan belajar spesial anak bisa lebih fokus belajar. Ada sebagian keuntungan yang bisa didapatkan bersama dengan jadi guru privat, seperti meningkatkan pengalaman mengajar, dan bisa mengenal pembawaan siswa yang berbeda-beda sehingga bisa coba beraneka macam teknik ajar sesuai bersama dengan kebutuhan siswa. Selain itu, Bapak/Ibu termasuk bisa meningkatkan penghasilan dikarenakan bayaran untuk guru spesial umumnya memadai mahal untuk per jamnya.

Siapa bilang guru cuma bisa mengajar di kelas? Guru termasuk bisa kok mengembangkan dirinya bersama dengan coba hal baru yang lebih sesuai bersama dengan kebutuhan siswa dan perkembangan zaman. Tidak cuma itu, Bapak/Ibu Guru termasuk bisa lho menambahkan pengaruh yang lebih besar terhadap dunia pendidikan tanpa wajib mengajar di kelas.

Selengkapnya : https://www.gurukelas.co.id/

Mengenal Era Disrupsi (Disruption Era) dan Strategi Menghadapinya

Mengenal Era Disrupsi (Disruption Era) dan Strategi Menghadapinya

Rekan Kerja, Anda sudah pernah mendengar makna jaman disrupsi? Era disrupsi berlangsung saat suatu inovasi baru masuk ke pasar dan menciptakan efek disrupsi yang lumayan kuat sehingga membuat perubahan struktur pasar yang sebelumnya.

Fenomena efek disrupsi bisa Anda temukan di Indonesia. Contohnya, Anda bisa menemukan ada konflik antara ojek pangkalan bersama dengan ojek daring, taksi konvensional bersama dengan taksi daring, dan bermacam marketplace online yang lumayan membuat perubahan tren jual beli untuk lebih dari satu produk layaknya telepon genggam.

Era disrupsi ini tidak bisa disepelekan karena bisa saja perusahaan Anda yang nanti akan terkena dampaknya. Oleh karena itu, sebagai pemimpin perusahaan, ada lebih dari satu perihal yang perlu Anda menyimak untuk menghadapi jaman disrupsi, yakni :

1. Jangan pernah berhenti berinovasi

Pasar memiliki selera yang terus beralih bersamaan pertumbuhan zaman. Lalu, apakah perusahaan bisa memberhentikan pergantian selera customer tersebut? Tentu tidak. Justru perusahaan lah yang perlu bisa berinovasi mengatur selera konsumen. Jika tidak, perusahaan Anda bersamaan pas akan ditinggalkan konsumennya secara perlahan layaknya merk Nokia, Kodak, dan Blackberry.

2. Jangan “berlindung” di bawah regulasi

Perkembangan teknologi memicu customer memiliki opsi yang lebih banyak untuk dipilih. Oleh karena itu, terkecuali perusahaan Anda menjadi korban berasal dari jaman disrupsi, tidak seharusnya perusahaan Anda “berlindung” di balik regulasi pemerintah, mengusahakan mencari-cari kekeliruan berasal dari kompetitor Anda. Karena, bersama dengan maupun tanpa regulasi pun kompetitor Anda akan selamanya berkembang dan justru jadi perusahaan Anda yang degradasi.

3. Manfaatkan teknologi

Konsumen memiliki hak untuk menentukan jasa maupun produk perusahaan yang tawarkan bermacam kelebihan, baik berasal dari aspek harga, kepraktisannya, kemudahan pembayarannya, dan kecepatan jasa tersebut. Oleh karena itu, sudah seharusnya perusahaan Anda manfaatkan teknologi untuk menambah kualitas jasa perusahaan Anda. Ditambah lagi, pangsa pasar pas ini sudah didominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z sehingga teknologi menjadi salah satu aspek mereka menentukan jasa maupun produk yang akan digunakan.

4. Jangan pernah menjadi menjadi puas

Setiap produk memiliki siklusnya masing-masing. Berdasarkan teori The 4 Product Life Cycle Stages (PLC), suatu produk akan mengalami 4 tahapan siklus, yakni introduction (perkenalan), growth (pertumbuhan), maturity (pematangan), dan decline (penurunan). Jadi, saat produk maupun jasa perusahaan Anda sedang dalam tahapan growth, perusahaan Anda jangan amat berpuas diri. Sebab di pas itu, perusahaan-perusahaan lain akan menjadi bisa menarik pasar baru lewat produk-produk baru yang mereka hasilkan.

5. Ciptakan hubungan yang “Customer Oriented”

Pada jaman disrupsi ini, perlu bagi perusahaan Anda untuk sediakan bermacam sarana yang bisa berorientasi terhadap konsumen. Perusahaan bisa memberi tambahan bermacam program loyalty, potongan harga, kemudahan pembayaran, dan sediakan sarana customer layanan yang solutif dan cekatan. Ingat, sarana ini akan memicu para customer lebih menentukan perusahaan Anda daripada perusahaan lainnya atau meninggalkan perusahaan Anda.

Baca Juga :

Alasan sehat buat membuka ventilasi kamar pada pagi hari

Alasan sehat buat membuka ventilasi kamar pada pagi hari – Membuka jendela kamar pada pagi hari supaya udara segar dan sinar mentari sanggup masuk ke pada ruangan ternyata merupakan sebuah norma yg menyehatkan. Sebuah penelitian mengambarkan bahwa tindakan itu sanggup membantu menurunkan risiko kontaminasi bakteri.

Studi baru menerangkan bahwa apabila Anda nir membuka tirai jendela di pagi hari, kemungkinan jatuh sakit sanggup lebih besar .

Sinar matahari di pagi hari sanggup membunuh bakteri penyebab penyakit yang hidup dalam debu. Sementara itu, kondisi yang lebih gelap malah membuat mereka berkembang.

Temuan yg dipublikasikan di jurnal ilmiah Microbiome itu jua memperingatkan kasus yang timbul di kantor tanpa jendela.

“Manusia menghabiskan sebagian besar waktu di pada ruangan, pada mana paparan partikel debu yang membawa bakteri, termasuk patogen yg bisa menciptakan kita sakit, tidak bisa dihindari,” ujar pimpinan studi Ashkaan Fahimipour.

Jadi, bangunan atau rumah yang ditempati berperan penting dalam menentukan kesehatan seorang. “Penting buat tahu fitur bangunan yg kita tempati, mempengaruhi ekosistem debu dan bagaimana ini dapat mensugesti kesehatan kita,” ujar Fahimipour.

Tim di University of Oregon, Amerika Serikat, melakukan penelitian menggunakan menciptakan sebelas kamar miniatur.

Kamar-kamar itu identik satu sama lain & ditempatkan di banyak sekali taraf cahaya. Setelah 90 hari, ruangan gelap memiliki jumlah bakteri 2 kali lipat banyaknya.

“Kami berharap bahwa dengan pemahaman lebih lanjut, kami bisa merancang akses ke sinar matahari di gedung-gedung seperti sekolah, tempat kerja, rumah sakit, & rumah tinggal dengan cara yang mengurangi risiko infeksi akibat ditularkan oleh debu,” istilah Fahimipour menambahkan.

Jadi bagi Anda yg terbiasa bangun tidur dalam kamar gelap gulita, mulai kini coba biasakan buat mengangkat tirai & membuka ventilasi. Meskipun menyilaukan mata, nyatanya sinar mentari pagi memang menaruh banyak manfaat bagi kesehatan kita.

Sumber  : https://www.bahasainggris.co.id/

Alasan Pentingnya Aktifkan ‘Flight Mode’ Dalam Pesawat

Alasan Pentingnya Aktifkan ‘Flight Mode’ Dalam Pesawat – Setiap melangkah masuk ke dalam pesawat bakal ada pengeras suara yang mengingatkan penumpang supaya mengatur perlengkapan elektronik apapun ke dalam mode penerbangan.

Dilansir dari The Telegraph, asumsi umum yang beredar ialah penumpang mesti menonaktfikan telepon seluler sebab sinyal yang dipancarkan bisa menganggu instrumen navigasi dan dapat menimbulkan gangguan.

Patrick Smith, seorang pilot AS dan pengarang Cockpit Confidential mengungkapkan persetujuannya terhadap aturan mematikan ponsel begitu masuk ke dalam pesawat.

“Mungkinkah perlengkapan mengganggu penerbangan? Itu tergantung pada gadget dan bagaimana dan kapan gadget tersebut digunakan,” katanya.

Sebagai misal laptop, Smith menuliskan komputer lama bisa memancarkan energi berbahaya. Risiko yang lebih banyak yang ditimbulkan ialah mengakibatkan gangguan sinyal penerbangan.

Potensi ponsel yang mengganggu tidak melulu ada saat sedang digunakan, tetapi pun saat ponsel tidak aktif, itulah sebabnya mode penerbangan mesti digiatkan bahkan andai penumpang tidak berniat memakai ponsel mereka.

Namun, Smith berasumsi meskipun terdapat permintaan yang jelas di mula setiap penerbangan guna mematikan ponsel, masih ada mayoritas orang yang lalai.

Di Indonesia sendiri, sekian banyak aturan sudah menyebutkan larangan pemakaian ponsel dalam pesawat. Salah satunya beleid dikeluarkan melewati Kementerian Perhubungan dan Kementerian Komunikasi yang tidak mengizinkan pemakaian barang elektronik dalam pesawat.

Salah satu beleid tertulis dalam UU Nomor 1 Tahun 2009 mengenai Penerbangan pasal 54 ayat f.

“Setiap orang di dalam pesawat udara sekitar penerbangan dilarang mengerjakan pengoperasian perlengkapan elektronik yang mengganggu navigasi penerbangan.” tulis beleid tersebut.

Lebih lanjut di dalam UU No. 36 Tahun 1999 mengenai Telekomunikasi, yang membicarakan pelarangan gangguan frekuensi radio berada dalam pasal 33 ayat (2) dan pasal 38. Ditinjau dari Pasal 33 Ayat (2) melafalkan bahwa pemakaian spektrum frekuensi radio dan orbit satelit mesti cocok dengan peruntukannya dan tidak saling mengganggu.

Sedangkan Pasal 38 melafalkan bahwa masing-masing orang dilarang mengerjakan perbuatan yang dapat memunculkan gangguan jasmani dan elektromagnetik terhadap penyelenggaraan telekomunikasi.

Berdasarkan UU Telekomunikasi yang dimaksud penyelenggaraan telekomunikasi ialah kegiatan penyediaan dan pelayanan telekomunikasi sampai-sampai memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi. Artinya pemakaian ponsel dapat mengganggu penyelenggaraan telekomunikasi.

Sumber : https://www.sekolahan.co.id/

PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS

PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS

PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS

PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS

Penyelenggaraan lembaga–lembaga pendidikan di negara manapun di dunia dipandang sebagai suatu program yang bernilai strategis. Hal ini berdasarkan satu asumsi bahwa proses pendidikan merupakan sebuah proses yang dengan sengaja dilaksanakan semata–semata bertujuan untuk mencerdaskan bangsa. Melalui proses pendidikan akan terbentuk sosok–sosok individu sebagai sumber daya manusia yang akan berperan besar dalam proses pembangunan bangsa dan negara. Oleh karena itu peran pendidikan demikian sangat penting sebab pendidikan merupakan kunci utama untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.


Hubungan antar proses pendidikan dengan terciptanya sumber daya manusia merupakan suatu hubungan logis yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini sesuai dengan pengertian pendidikan itu sendiri. Mc. Donald memberikan rumusan tentang pendidikan : “… is a process or an activity which is directed at producing desirable in the behavior of human beings.” Pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan menghasilkan perubahan tingkah laku manusia. Secara sederhana,perubahan tingkah laku yang terjadi disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tiga unsur meliputi unsur kognitif, afektif dan psikomotor ( Taksonomi Bloom ).

Pendapat lainnya, yaitu pendapat Mc. Donald yang didalammnya sejalan dengan pendapat Winarno Surakhmad yang mengemukakan bahwa : Pendididkan atau dipersempit dalam pengertian pengajaran, adalah satu usaha yang bersifat sadar tujuan, dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku. Menuju ke kedewasaan anak didik. Perubahan itu menunjuk pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses itu perubahan tidak mungkin terjadi, tanpa proses itu tujuan tak dapat dicapai. Dan proses yang dimaksud di sini adalah proses pendidikan.


Sedangkan pengertian pendidikan dari sudut pandang kebudayaan, Darji Darmodiharjo menjelaskan sebagai berikut : Pendidikan pada dasarnya merupakan sebagaimana dari kebudayaan yang mengarah kepada peradaban. Kebudayaan dalam arti luas adalah wujud perpaduan dari logika (pikiran), etika (kemauan), estetika (perasaan) dan praktika (karya) yang merupakan sistem nilai dan ide vital (gagasan) penting yang dihayati oleh sekelompok manusia (masyarakat) tertentu dalam kurun waktu tertentu pula.

Satu pengertian lain yang cukup esensi untuk dapat memahami pengertian pendidikan, dikemukakan oleh Max Muller sebagai mana dikemukakan kembali oleh B.S. Mardiatmadja, yaitu bahwa “Pendidikan adalah proses yang terorganisir untuk membantu agar seseorang mencapai bentuk dirinya yang benar sebagai manusia.”

Dari beberapa pengertian tentang “pendidikan” sebagaimana dikutif tersebut di atas sangat jelas bahwa pendidikan suatu kegiatan dalam upaya untuk mengubah tingkah laku objek didik ke arah positif. Pendidikan merangkum segi-segi intelektual, afektif dan psikomotorik manusia, juga menyentuh cipta rasa dan karsa. Pendidikan juga merangsang pikiran-pikiran, perasaan dan kehendak manusia untuk bertindak secara bijaksana dengan mempertimbangkan lingkungan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan merupakan suatu organisasi yang di dalam gerakkannya berhubungan erat dengan bidang pendidikan mulai dari jenjang yang paling rendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi, yaitu mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama, Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi.


Pendidikan tidak saja penting secara individual, tetapi juga penting bagi proses pembangunan bangsa dan negara, apa lagi negara yang sedang membangun seperti halnya Indonesia akan sangat mengharapkan proses pendidikan dapat mencapai hasil yang optimal sehubungan dengan masih sangat diperlukannya sumber daya manusia terdidik; sumber daya manusia yang berkualitas demi mengejar ketertinggalannya dalam pembangunan nasional serta era globalisasi yang penuh tantangan.

Pada era globalisasi, lembaga pendidikan harus dapat mencetak “leader-leader” yang tangguh dan berkualitas. “Leader–leader” pada masa yang akan datang harus dapat mengubah pola pikir untuk menyelesaikan sesuatu dengan kekuatan manusia (manpower) menjadi pola pikir kekuatan otak (mindpower). Konsep pendidikan juga harus dapat menghasilkan out put lembaga pendidikan yang dapat menciptakan “corporate culture”, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan norma–norma yang berlaku masa itu dan pada gilirannya tumbuh kreativitas dan inisiatif, sehingga munculah peluang baru (new opportunity). Out put pendidikan dimasa datang juga diharapkan dapat memandang manusia bukan sebagai pekerja tetapi sebagai mitra kerja dengan keunggulan yang berbeda. Dengan demikian, seorang leader yang keluar dari persaingan global, harus dapat memandang manusia sebagai manusia, bukan pekerja.

Sehubungan dengan peranannya itulah, maka penyelenggara pendidikan oleh lembaga–lembaga pendidikan perlu benar–benar mendapat perhatian dan penanganan yang serius dari semua pihak demi optimalisasi pencapaian tujuan yang diinginkan.


Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan ideal yang dalam proses upaya pencapaiannya dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan. Oleh karena itu, setiap institusional dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional telah menetapkan tujuan antara sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikannya.

Pada dewasa ini, upaya-upaya pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan telah menjadi bahan wacana dan pemikiran para pakar pendidikan di Indonesia sehubungan dengan masih sangat rendahnya mutu pendidikan pada saat ini. Mutu pendidikan yang diharapkan pada setiap jenjang sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Menengah Umum/Kejuruan (SMU/SMK), sampai dengan Perguruan Tinggi (PT), minimal dapat mencapai tingkat ketercapaian tujuan pendidikan berdasarkan pada standar-standar tertentu.


Penetapan standar kompetensi siswa sebagai standar pencapaian minimal dari hasil proses pendidikan dilatarbelakangi oleh suatu harapan agar dapat tercipta pemerataan mutu minimal sebagai hasil proses pendidikan pada sekolah menengah umum. Hal ini menunjukkan satu kenyataan bahwa hasil pendidikan di Indonesia setelah lebih setengah abad kemerdekaannya, masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional sangat menyadari tentang kenyataan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, seperti pernyataan berikut ini :

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan.


Berbicara mengenai keterpurukan mutu pendidikan di Indonesia dengan berbagai indikatornya, memang tidak akan habis-habisnya. Tetapi yang lebih penting dari pada itu adalah bagaimana cara mengatasinya dalam hubungannya dengan persoalan pendidikan di Indonesia antara lain mengenai perlunya pemahaman dan pengkajian tentang visi, misi dan tujuan pendidikan nasional.
Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Tetapi kenyataan hasil yang dicapai masih tetap belum mencapai seperti apa yang diharapkan.

Peningkatan mutu pendidikan masih tetap menjadi bahan diskusi yang “up to date” untuk dibahas.
Berdasarkan pengamatan dan anilisis yang dilakukan, Departemen Pendidikan Nasional menyimpulkan sebagai berikut : sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi. Faktor ketiga , peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim.


Sehubungan dengan permasalahan tersebut di atas, langkah yang diambil sebagai satu kebijakan adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Konsep ini mengandalkan pemberian otonomi yang luas kepada sekolah dalam menyelenggarkan pendidikan. Partisipasi aktif masyarakat dalam pendidikan dikembalikan kepada kebutuhan masyarakat, orang tua dan pemerintah daerah.

Perubahan paradigma pada dunia pendidikan di Indonesia yang bernuansa reformatif ini menurut analisis Bank Dunia di latar belakangi oleh kondisi : (1) kepala sekolah tidak memiliki kewenangan yang cukup dalam mengelola keuangan sekolah yang dipimpinnya; (2) kemampuan manajemen kepala sekolah pada umumnya rendah terutama di sekolah negeri: (3) pola anggaran tidak memungkinkan bagi guru yang berprestasi baik bisa memperoleh insentif; dan (4) peran serta masyarakat sangat kecil dalam pengelolaan sekolah.


Sumber : https://www.ayoksinau.com/

Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran

Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran

Lesson Study

Lesson Study

Abstrak:
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act).


Kata Kunci : lesson study, kolaboratif, plan, do, check, act

A. Pendahuluan

Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.


Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang Lesson Study, yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, Lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.

Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkas tentang apa itu Lesson Study dan bagaimana tahapan-tahapan dalam Lesson Study, dengan harapan dapat memberikan pemahaman sekaligus dapat mengilhami kepada para guru (calon guru) dan pihak lain yang terkait untuk dapat mengembangkan Lesson Study lebih lanjut guna kepentingan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.


B. Hakikat Lesson Study

Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.


Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:


“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.

Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.


Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:

1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.

2. Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.

3. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.

4. Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.


Sumber : Ngelag.Com

Hubungan filsafat dan Pendidikan

Hubungan filsafat dan Pendidikan

Hubungan filsafat dan Pendidikan

Hubungan filsafat dan Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang masalah

Fisafat sebagai “Mater-Scientiarum” (induk ilmu pengetahuan), perumusannya sangat sulit dilaksanakan, sebab nilai filsafat itu hanyalah dapat dimanifestasikan oleh seseorang sebagai filsuf yang otentik. Setiap orang yang ingin mengejar pengertian hidup dan kehidupan itu, maka itu berarti bahwa ia masih di atas jalan menjadi seorang filsuf, untuk lebih memanusiakan dirinya. Sebab berfilsafat tiada lain adalah hidup berpikir dan pemikiran sedalam-dalamnya tentang hidup dan kehidupan itu.

Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam perenungannya menemukan tiga bentuk eksistensi kebenaran yaitu: ilmu pengetahuan, filsafat dan agama. Ibarat satu garis lurus, maka kebenaran ilmu pengetahuan mengandung kenisbian (elativitas), yang bermuara kepada filsafat sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat kenisbian yang bermuara kepada agama, sebagai kebenaran yang mutlak (absolut) karena bersumber dari Yang Maha Mutlak dan Maha Benar.

Oleh karena itu, dalam perenungan kita tentang bentuk pengetahuan filsafat dan eksistensinya dalam hidup dan kehidupan manusia di jagat raya ini tidak dapat melepaskan diri dari pembahasan dan kaitannya kepada ilmu pengetahuan dan agama.

Filsafat disebutkan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang bersifat eksistensial artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan justru filsafatlah yang jadi motor penggerak kehidupan kita sehari-hari baik sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia kolektif dalam bentuk suatu masyarakat atau bangsa.

  1. Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

  1. Bagaimana realita hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan ?
  2. Bagaimana hubungan filsafat dengan ilmu ?
  3. Dimanakah titik temu filsafat dengan ilmu pengetahuan ?
  4. Apa saja perbedaan prinsipil filsafat dengan ilmu pengetahuan ?
  5. Bagaimana hubungan filsafat dan pendidikan ?
  6. Bagaimana kedudukan filsafat pendidikan sebagai satu disiplin ilmu ?
  1. Tujuan pembahasan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk memahami realita hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan
  2. Untuk mengetahui hubungan filsafat dengan ilmu
  3. Untuk mengetahui titik temu filsafat dengan ilmu pengetahuan
  4. Untuk mengetahui perbedan prinsipil filsafat dengan ilmu pengetahuan
  5. Untuk mengetahui hubungan filsafat dan pendidikan
  6. Untuk mengetahui kedudukan filsafat pendidikan sebagai satu disiplin ilmu .
  • BAB II

  • HUBUNGAN FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

  1. Realita Hubungan Filsafat Dengan Ilmu Pengetahuan

Kita berusaha melihat realita hubungannya, berdasarkan suatu asumsi, bahwa keduanya merupakan kegiatan manusia. Kegiatan manusia dapat diartikan dalam prosesnya dan juga dalam hasilnya. Dilihat dari hasilnya,filsafat dan ilmu merupakan hasil dari pada berpikir manusia secara sadar, sedangkan dilihat dari segi prosesnya, filsafat dan ilmu menunjukkan suatu kegiatan yang berusaha untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan manusia (untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan ), dengan menggunakan metode-metode atau prosedur-prosedur tertentu secara sistematis dan kritis.

Filsafat dan ilmu memiliki hubungan saling melengkapi satu sama lainnya. Perbedaan antara kedua kegiatan manusia itu, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling mengisi, saling melengkapi, karena pada hakikatnya, perbedaan itu terjadi disebabkan cara pendekatan yang berbeda. Maka dalam hal ini perlu membandingkan antara filsafat dan ilmu, yang menyangkut perbedaan-perbedaan maupun titik temu antara keduanya.

  • Hubungan filsafat dengan ilmu

Henderson, memberikan gambaran hubungan (dalam hal ini perbedaan )antara filsafat dan ilmu sebagai berikut:

  • Ø Ilmu (Science)
  1. Anak filsafat.
  2. Analitis; memeriksa semua gejala melalui unsur terkecilnya untuk memperoleh gambaran senyatanya menurut bagianya.
  3. Menekankan fakta-fakta untuk melukiskan objeknya.
  4. Menggunakan metode eksperimen yang terkontrol sebagai cara kerja dan sifat terpenting; menguji sesuatu dengan menggunakan penginderaan.
  • Ø Filsafat
  1. Induk ilmu.
  2. Sinoptis, memandang dunia dan alam semesta sebagai keseluruhan, untuk dapat menerangkannya, menafsirkannya dan memahaminya secara keseluruhan.
  3. Bukan saja menekankan keadaan sebenarnya dari objek, melaikan juga bagaimana seharusnya objek itu. Manusia dan nilai merupakan faktor penting.
  4. Menggunakan semua penemuan ilmu pengetahuan, menguji sesuatu berdasarkan pengalaman dengan memakai pikiran.
  • Titik temu filsafat dengan ilmu pengetahuan

Ada beberapa titik pertemuan antara filsafat dan ilmu, yaitu:

  1. Filsafat dan ilmu pengetahuan keduanya menggunakan metode-metode reflective thinking didalam menghadapi fakta-fakta dunia dan hidup ini.
  2. Filsafat dan ilmu pengetahuan  keduanya menunjukkan sikap kritis dan terbuka, dan memberikan perhatian yang tidak berat sebelah terhadap kebenaran.
  3. Ilmu pengetahuan  mengoreksi filsafat dengan jalan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan yang ilmiah.
  4. Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong-potong, yang menjadikan bermacam-macam ilmu dan berbeda-beda, dan menyusun bahan-bahan tersebut kedalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia yang lebih menyeluruh dan terpadu.

Filsafat dan ilmu pengetahuan keduanya sangat penting serta saling melengkapi. Tetapi harus pula saling menghormati dan mengakui batas-batas dan sifat-sifatnya masing-masing. Ini sering dilupakan, lalu menimbulkan bermacam-macam kesukaran dan persoalan yang seharusnya dapat dihindari asal saja orang insyaf akan perbedaan antara kedua ilmu pengetahuan tersebut. Misalnya seorang dokter mengatakan: “waktu saya mengoperasi seorang pasien belum pernah saya melihat jiwanya”, maka ia menginjak lapangan lain, meloncat dari lapangannya sendiri ke dalam lapangan filsafat, sehingga kesimpulannya itu tidak benar lagi. Referensi : gurupendidikan.co.id

Teknik Jitu Memotivasi Siswa

Teknik Jitu Memotivasi Siswa

 

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Salah satu tujuan pendidikan adalah menghasilkan siswa yang mempunyai semangat untuk terus belajar seumur hidup, penuh rasa ingin tahu dan keinginan untuk menambah ilmu, meskipun pendidikan formal mereka telah berakhir. Kunci untuk mewujudkan semua itu adalah adanya motivasi yang kuat dan terpelihara dalam diri siswa untuk belajar.

Teknik Jitu Memotivasi Siswa

Teknik Jitu Memotivasi Siswa


          Sebagai seorang guru tentu Anda pernah mengamati siswa-siswi di kelas tiba-tiba kurang motivasi belajar. Hal ini sering ditandai dengan sikap negatif, seperti malas mengerjakan tugas, tidak merespons pertanyaan guru, tidak mau memberi pendapat, berperan sebagai pengikut saja atau tidak punya inisiatif, dan mengganggu teman atau berkomentar yang menarik perhatian orang lain. Salah satu penyebab hal tersebut terjadi karena guru lupa atau jarang memberi penghargaan atau pujian kepada siswanya tentang hal kecil apapun yang sudah mereka lakukan ketika mereka telah melakukan perubahan dalam bidang akademik dan perilaku. Bagaimanapun, pujian sesederhana apapun secara verbal sebenarnya dapat memengaruhi rasa diterima dan dipercayai kemampuannya sebagai seorang manusia. Otomatis hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar dikelas.

 

1.2   Rumusan Masalah

Bagaimana teknik-teknik memotivasi siswa agar semangat dalam belajar?

BAB II

PEMBAHASAN

Teknik-Teknik Memotivasi Siswa

Motivasi tidak selalu timbul dengan sendirinya . motivasi dapat ditumbuhkan, dikembangkan , dan diperkuat atau ditingkatkan. Makin kuay motivasi seseorang makin kuat usaha unutk mencapai tujuan . selain itu, motivasi juga harus diberikan dengan cara yang tepat dan Waktu yng tepat pula. Menurut Elliot (1996) dalam, ada tiga saat dimana seorang guru dapat membangkitkan motivasi belajar pada siswa, yaitu : pada saat mengawali beljar, selama belajar, dan mengakhiri belajar

  1. Pada saat mengawali beajar

dua factor motivasi kunci dalam hal ini adalah sikap dan kebutuhan. Guru harus membentuk sikap positif pada diri siswa dan menumbuhkan kebutuhannya  untuk belajar dan berprestasi. Setiap kali mengawali pelajaran, guru dapat memulai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memancing siswa mengungkapkan sikap dan kebutuhan mereka terhadap pelajaran. Lalu perlahan-lahan siswa diarahkan untuk bersikap positif dan merasakan kebutuhannya.

  1. Selama belajar

Dua proses kunci yang penting dalam hal ini addalah stimulasi dan pengaruh. Untuk menstimulasi siswa dapat dilakukan dengan menimbulkan daya tarik pelajaran, juga dapat dilakukan dengan mengadakan permainan. Selain itu, guru harus mempengaruhi atribusi siswa terhadap hasil perilakunya, bila ia berhasil maka keberhasilan itu adalah atas usahanya akan tetapi jika gagal aka itu bukanlah kesalahannya dan masih ada kesmpatan untuk memperbaiki.

  1. Mengakhiri belajar

Proses kuncinya dalah kompetensi dan reinforcement. Guru harus membantu siswa mencapai kompetensi dengan meyakinkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, sedangkan reinforcement harus diberikan dengan segera dan sesuai dengan kadarnya

Ada banyak teknik yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik atau guru untuk memotivasi siswa?pemelajar unutk belajar. Sardiman (2001) mengemukakan beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhakn motivassi dalam kegiatan belajar disekolah melalui:

  1. Memberi angka
  2. Hadiah
  3. Saingan/kompetisi
  4. Ego involvement
  5. memberi ulangan
  6. mengetahui hasil
  7. pujian
  8. hukuamn
  9. hasrat untuk belajar
  10. minat
  11. tujuan yang diakui

Nasution (1988) mengemukakan ada beberapa cara untuk meningkatkan motivasi belajar, yaitu

  1. memadukan motif-motif yang sudah dimiliki
  2. memperjelas tujuan yang hendak dicapai sehingga siswa akan berbuat lebih efektif
  3. mengadakan persaingan
  4. memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai
  5. pemberian contoh yang positif

azwar (dalam irfan dkk 200) teknik memotivasi siswa

  1. ganjaran ( rewards ) . Pemberian ganjaran atau hadiah berkaiatan dengan kebutuhan akan penghargaan pada diri siswa. Bentuk ganjaran yang diberikan dapat bersifat simbolik seperti sertifikat, dapat berupa materi seperti buku, dan dapat pula bersifat psikologis seperti pujian dan pengakuan. Pada umumnya ganjaran materi akan lebih efektif diberikan pada siswa tingkat rendah sedangkan ganjaran untuk tingkat yang lebih atas harus lebih berbentuk simbolik atau psikologis.
  2. Nilai prestassi. Nilai prestasi diberikan sebagai hasil THB, EBTA dan untuk hasil pekerjaan rumah maupun tugas-tugas di sekolah, akan memiliki nilai motivasi yang tinggi apabila diberikan dengan cara yang tepat. Terutama dalam memberikan nilai terhadap tugas-tugas sekolah sehari-hari hendaklah dilakukan berdasarkan kemajuan belajar siswa masing-masing, tidak berdasarkan perbandingan deengan prestasi kelompok.
  3. Kompetisi. Dalam situasi-situasi tertentu, persaingan dapat menjadi sumber motivasi yang ampuh. Bila akan mengadakan suatu bentuk kompetisi di kelas, haruslah diingat bahwa dalam kompetisi itu setiap siswaa harus mempunyai kesempatan yang sama besar untuk menang. Bila kompetisi itu menyangkut prestasi sekoliah, maka harus ada pengelompokan kemaampuan lebih dahulu. Apabila akan dibuat daalam suatu kompetisi dalm menyelesaikan tugas belajar sehari-hari, lebih baik bila tugas itu merupakan tugas kelompok.
  4. Pengetahuan akan hasil belajar. Untuk setiap tugas sekolah maupun rumah, sangat penting artinya dalam motivasi belajar adalah pengetahuan akan hasil.  Para siswa sedapat mungkin segera mengetahui hasil pekerjaan mereka. Penelitian menunjukan bahwa pengetahuan akan hasil pekerjaan sangat efektif dalam memotivasi siswa untuk belajar

Setiap siswa memiliki motif terhadap tugas belajarnya,mulai dari sekedar mendapatkan pengakuan dari sekitarnya (need of recognation) yang diwujudkan dalam bentuk perilaku ingin dihargai prestasi belajarnya sampai mencapai kebutuhan berprestasi,berkompetisi dan menjadi juara disekolahnya ,need of achievement. Namun yang lebih penting adalah bagaimana memotivasi siswa agar memiliki komitmen yang mendalam untuk terus mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang telah diraihnya,memiliki daya saing dan akhlak mulia.Untuk itu dalam memotivasi siswa perlu menanmkan kesadaran melalui

  1. Cognitive Insight:  Kesadaran siswa pada tataran ini haya berdasarkan kognitif semata,siswa termotivasi hanya sebatas informasi yang diterima,mulai membandingkan perilaku yang bakal dijalani dengan perilaku orang sekitar dan rekan sebayanya sebagai pertimbangan untuk memutuskan patuh pada “Nasehat” guru. Tingkat kesadaran pada tahap ini sangat labil karena bisa saja siswa terpengaruh oleh informasi lain yang lebih menarik pikirannya.Sehingga mereka bisa saja tidak termotivasi atau melanggar karena mendapatkan pengetahuan baru yang “membuat nasehat guru menjadi tidak logis.
  2. Affective Insight ;Kesadaran pada tataran afeksi sangat bergantung pada tingkat kepuasan siswa melakukan tindakan yang disarankan,dalam hal belajar jika siswa merasa puas terhadap mata- pelajaran  dan pengalaman selama  menjalani kegiatan  belajar yang diterimanya  akan memiliki hasrat untuk terus mengulang. Aspek kepuasan  memang tidak serta merta membuat siswa konsisten dalam belajar namun masih lebih baik  dibandingkan cognitive ,karena pengalaman yang berkesan diingatnya.Seorang guru patut menjaga kepuasan belajar siswa agar mereka tidak terjebak dalam boring experience dengan terus memotivasi dan menciptakan kegiatan yang kreatif ,value creation.
  3. Cognative insight : siswa memiliki komitmen yang kuat untuk menjalankan “nasehat gurunya lantaran percaya dan memiliki hasarat yang besar meraih keberhasilan,mereka adalah siswa yang terus mengkatkan pengatahuan guna mencapai prestasi yang diinginkannya.Guru perlu terus memotivasi   serta mampu memberikan pemaknaan lebih tinggi atas upaya dan hasil yang dicapai  siswa,agar siswa memiliki cognitive consistency selama  mengejar dan meraih prestasinya serta  tidak mudah tergoda bujuk rayu sekitarnya.
  4. Action Insight; pada tingkatan siswa terlibat dalam aktivitas berprestasi ,guru hanya perlu menciptkan iklim kompetitif dikelas dan disekolah ,dengan komunikasi persuasif yang merangsang need of achievement yang ada dalam diri siswa.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin. Motivasi belajar yang memadai akan mendorongsiswa berperilaku aktif untuk beeprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negative terhadap keefektifan usaha belajar siswa.

Peranan guru untuk mengelola motivasi belajar siswa sangat penting dan dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengenalan guru kepada siswa secara individual.

Usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa memerlukan kondisi tertentu yang mengedepankan keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Sejauh mungkin siswa perlu didorong untuk mampu menata belajarnya sendiri dan menggunakan interaksi antarpribadi dengan teman dan guru untuk mengembangkan kemampuan kognitif/ intelektual dan kemampuan sosial. Referensi : https://www.kuliahbahasainggris.com/

Wayang Masuk Sekolah

“Wayang Masuk Sekolah” Ramaikan Hari Anak Indonesia

“Wayang Masuk Sekolah” Ramaikan Hari Anak Indonesia

Wayang sebagai warisan budaya dunia berasal dari Indonesia semakin dilupakan anak-anak. Mereka lebih mengenal tokoh superhero berasal dari luar negeri dibanding budaya wayang. Menjelang perayaan Hari Anak Nasional, 23 Juli, “Wayang Masuk Sekolah” coba mengenalkan ulang wayang pada anak-anak.

Wayang Masuk Sekolah

Empat orang anak berseragam sekolah basic terlihat berkumpul di keliru satu sudut sekolah di Solo, pertengahan pekan kemarin. Mereka terlihat membahas film “Avengers Infinity Wars” dan “The Incredibles”, film-film superhero yang tengah tren di televisi maupun bioskop. Salah seorang anak, Desta, siswa kelas 5 SD mengaku tak paham model maupun tokoh pewayangan, tetapi cepat menjawab waktu ditanya tentang superhero idola.

“Wayang, saya nggak tahu. Nggak ngerti. (Kalau tokoh superhero?) Nah itu saya tahu, tersedia super dede, tersedia Superman, Batman, banyak. Hahaha.. (Superhero idolamu?) Ya paham Superman,” kata Desta.

Jawaban hampir sama dilontarkan keliru seorang anak lainnya yang berdandan dan berbusana tokoh pewayangan waktu sekolah menggelar karnaval budaya wayang. Siswa SD itu, Widya, mengaku tak paham tokoh wayang yang busananya dipakai waktu karnaval tersebut.

Berbeda bersama Satria, siswa SD yang berbusana tokoh wayang Gatotkaca, yang tampil lengkap bersama tempelan kumis hitam. Tingkah lucu Gatotkaca junior berkumis ini mengakibatkan gelak tawa teman-temannya.

“Saya gunakan baju wayang Gatotkaca. Saya puas dapat turut karnaval Wayang. Gatotkaca itu tokoh pemberani, dapat terbang,” ujar Satria.

Wayang sebagai warisan budaya dunia berasal dari Indonesia seringkali dilupakan anak-anak. Selama ini pelajaran wayang hanya tersedia di mata pelajaran muatan lokal tempat bersama durasi 2-3 jam per minggu. Itupun belum bersama materi bhs daerah.

“Wayang Masuk Sekolah” ulang digelar di keliru satu SD Negeri di Solo, SD Sampangan 26 Solo, Rabu selanjutnya (18/7). Tiga ratus lima belas siswa kelas satu hingga kelas enam, juga 55 siswa baru diajak mengenal bermacam model wayang dan nama-nama tokohnya.

Kepala sekolah SD Sampangan 26 Solo, Tri Joko, menjelaskan “Wayang Masuk Sekolah” jadi keliru satu aktivitas utama siswa menjelang Hari Anak Nasional 23 Juli. Ia menjelaskan prihatin bersama fenomena saat ini ini, dimana anak lebih mengenal superhero berasal dari luar negeri daripada tokoh pewayangan.

“Ada program “Wayang Masuk Sekolah” di sekolah tertentu, juga di SD kita ini. Tujuannya untuk menambahkan pengetahuan dan pengalaman pada anak bahwa sesungguhnya kita punya tokoh superhero dan budaya yang luhur dalam wayang ini. “Wayang Masuk Sekolah” ini fokus pada pengenalan tokoh-tokoh wayang dan bermacam macam model wayang. Antusiasme anak-anak terlampau tinggi. Busana yang mereka gunakan juga meriah, kita menghendaki wayang bukan sekdar jadi tontonan tetapi juga tuntunan bagi anak-anak. Ada wayang kulit, wayang golek, sesudah itu juga anak-anak Mengenakan baju wayang orang, tersedia tokoh nakula sadewa, tersedia werkudara, gatotkaca, srikandi, dan sebagainya. Kita bebaskan anak-anak memilih baju wayang sesuai kreasi, tetapi kita rekomendasikan anak-anak Mengenakan baju wayang yang udah dikenal,” paham Tri.

Pengelola sanggar seni wayang yang bekerjasama bersama SD tersebut, Margono, mengungkap mengenalkan wayang pada anak harus dikemas dalam acara yang menyenangkan. Menurut Margono, sanggarnya udah berkeliling ke bermacam tempat di Indonesia, tertama di Pulau Jawad an Bali, untuk mengenalkan budaya wayang, dan sekolah-sekolah di Solo jadi wilayah ke-26 baginya.

Margono mengatakan, “Sasaran kita adalah anak-anak usia SD dan SMP. Jadi aktivitas kita di dua model sekolah itu, dikarenakan mereka sebagai pondasi generasi penerus budaya bangsa Indonesia. Kami punya strategi bahwa anak-anak anak akan mengenang tentang wayang. Setelah pulang sekolah, akan teringat selalu pernah kirab budaya wayang bersama wayang kulit raksasa tokoh semar setinggi 6 meter. Awalnya kita pengenalan budaya wayang nusantara. Kita cobalah anak-anak untuk mewarnai gambar tokoh wayang, kita menyediakan gambarnya di lembaran kertas. Itu untuk kelas satu hingga tiga SD, sesudah itu untuk kelas 4 hingga 6 SD, kita workshop menyebabkan wayang kulit berasal dari bahan kertas atau kardus. Wayang hasil karya anak-anak itu boleh dibawa pulang ke rumah masing-masng sebagai kenang-kenangan. Dari aktivitas ini, anak-anak dapat paham dan membedakan tokoh wayang beserta karakternya. Kan tersedia karakter tokoh wayang yang baik, sedangkan karakter yang jelek atau jahat ya jangan ditiru.Ini akan berimbas ke kehidupan sehari-hari anak. semisal tokoh Werkudara, Semar, dan lainnya. Ini secara spesial akan tertanam.”

sumber  : https://www.ruangguru.co.id/