Gaya Belajar Itu Mitos

Table of Contents

Gaya Belajar Itu Mitos

“Gaya belajar itu mitos, kawan.”

Dua orang guru sedang ngobrol ringan berkenaan multiple intelligence. Keduanya meyakini, mungkin juga anda, bahwa kalau kami tidak dulu mengkaji berkenaan metode belajar dan mengajar bersama dengan teman kita, maka nyaris pasti, cara mengajar kami stagnan. Kecuali anda membaca buku dan mempraktikkannya.

Seorang guru menawarkan kopi hitam yang dibelinya secara online. “Yuk kami coba kopi ini!”

A: Gaya belajar itu bukan mitos. Ada penelitiannya. Ada otak yang cara kerjanya adalah auditori, tersedia juga yang visual, juga kinestetik.

B: Betul. Sayangnya, mayoritas guru masih mempercayai perihal ini. Termasuk aku pada awalnya dan anda hingga kala ini. Bahkan, sekolah yang guru-gurunya menyampaikan perihal ini kepada siswanya, sebabkan siswa tersebut yakin bersama dengan jenis belajarnya. Ini lebih berbahaya.

A: Kenapa berbahaya? Faktanya, tersedia muridku yang langsung paham cuma bersama dengan mendengarkan penjelasanku. Ada yang belajar sambil bermain, sanggup lebih cepat paham.

B: Tetap berbahaya. Jika guru melayani jenis belajar siswa, maka dia udah mengembangkan pola pikir yang senantiasa dan bukan pola pikir yang berkembang. Bahayanya, kala murid yakin bersama dengan jenis belajarnya maka murid tersebut yakin bahwa dirinya cuma sanggup belajar bersama dengan jenis belajar tersebut. Akibatnya, anak tidak berkenan belajar bersama dengan jenis yang lain.

Apa benar, anak yang auditori harus senantiasa dibacakan kala belajar? lakukan soal juga harus dibacakan? Dan seterusnya. Dia tidak mengupayakan coba kebolehan yang lain. Memangnya, anda tidak menghendaki anak belajar paham teks? Belajar mendengarkan penjelasan guru?

A: Betul juga, ya. Saya baru paham, sekarang. Saya berkenan tanya, kenapa anda bilang mitos? Padahal itu hasil penelitian psikologi.

B: Awalnya sebetulnya iya. Ada penelitian ilmiahnya. Setelah puluhan tahun, akhirnya bukti dari penelitian tersebut tidak memadai kuat. Sepuluh tahun terakhir, udah banyak bantahan pada teori jenis belajar ini. Para psikolog dari berbagai disiplin, udah mengkaji teori ini. Makanya, psikolog Scott Barry Kaufman, menyebut jenis belajar sebagai “neuromythology”, sebuah inspirasi tenar yang bertahan walau sedikit bukti yang mendukungnya.

A: Kenapa banyak yang yakin bersama dengan teori jenis belajar ya?

B: Barangkali, dikarenakan kayak berita hoax kala ini. Begitu seringnya dibicarakan, seolah-olah beralih jadi benar. Tapi….

A: Bisa jadi. Saya paling tidak puas kalau tersedia orang yang tidak melaksanakan prinsip “saring sebelum saat sharing”. Dia melacak berita cuma yang mendekati emosinya, bukan mendekati akal sehatnya. Sayangnya, maaf kalau salah, aku menyaksikan di tempat sosial masih banyak guru yang melaksanakan perihal ini.

B: Kayaknya mereka tidak cukup ngopi dan tidak cukup piknik. Bagaimana berkenan piknik, gaji buat cicilan aja udah ngos-ngosan.

A: Santai. Tetap bersyukur aja. Kita ulang ke persoalan.

B: Betul. Salah satu yang sebabkan banyak orang yakin pada jenis belajar adalah dikarenakan dekatnya teori tersebut bersama dengan prinsip psikologi, yakni setiap orang berbeda. Setiap orang miliki potensi yang unik, bakat yang berbeda, pengalaman dan semangat hidup yang berbeda. Karena alasan inilah, orang bersama dengan otomatis menyamakan bersama dengan jenis belajar. Padahal, itu dua perihal yang berbeda.

A: Saya jadi memahami. Berarti tersedia kaitannya bersama dengan modalitas belajar ya?

B: Tepat. Guru harus paham berkenaan perihal ini. Terutama bagi mereka yang separo tahu. Yang tidak paham sama sekali, justru aman. Tapi, senantiasa harus meng-upgrade diri. Masih ingat, kan bersama dengan kalimat ini, “Yang berbahaya bukan dikarenakan tidak tahu, melainkan yang paham cuma setengah-setengah”.

Howard Gardner, yang tahun 1980-an mempopulerkan kecerdasan majemuk atau multiple intelligence, tahun 2013 di The Washington Post, menyebut teori jenis belajar udah “tidak koheren”. Gardner juga menyebutkan bahwa tidak tersedia bukti yang paham bahwa mengajar bersama dengan jenis belajar siswa membuahkan hasil yang lebih baik.

A: O, begitu. Terus….

B: Sudahlah, cari info sendiri ya…. yang mutlak mengajarlah bersama dengan semua modalitas yang tersedia bersama dengan .

A: Siap. Akan aku cari referensi, dan kami bahas ini lain kala ya….

B: Oke. Siapa paham aku yang tidak cukup pas di dalam paham dialog learning tipe di dalam ranah psikologi ini. Baca tulisan Dr. Robert Bjork, Howard Gardner, Neil Fleming, Daniel Willingham,Ulrich Boser, dan masih banyak yang lain.

A: Banyak banget. Guru kok sibuk terlampau ya. Ngomong-ngomong, paham beginian, mutlak gak sih buat guru?

B: Kayak minum kopi aja. Kalau muridnya kayak kamu, yang minum kopi hasil buatan istri, dan gak dulu buat sendiri, maka pengetahuan ini gak penting. Kamu cuma menikmati. Murid juga cuma menerima. Itu saja.

Tapi, bagi orang yang menikmati kopi sekaligus inginkan sanggup menyajikan cita rasanya bagi orang lain, maka pengetahuan meracik kopi itu penting. Setidaknya kami sanggup menyebutkan kenapa masih tersedia orang yang minum kopi manis.

A: Gue dong.

hahahaha

Terimakasih.

Sumber : https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/