Kota Sensitif Air, Selamatkan Air Dengan Menangkap Air Hujan

Kota Sensitif Air, Selamatkan Air Dengan Menangkap Air Hujan

Kota Sensitif Air, Selamatkan Air Dengan Menangkap Air Hujan

Menuju kota sensitif air pada 2045 mendatang

Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Universitas Indonesia (UI) dan Monash University menggelar Urban Water Learning Alliance di Hotel Savero Garden, Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Kamis (30/11/2017). Pada kesempatan tersebut dibahas berbagai upaya penyelamatan air dengan cara manajemen air yang baik.

Cluster Leader Prof Hadi Susilo Arifin mengatakan

Kota sensitif air menjadi salah satu target yang dalam bahasa sederhananya kota ramah air. Penyelamatan air melalui manajemen yang baik yakni ketika turun hujan air tidak menimbulkan banjir dan ketika kemarau air tidak sampai kekeringan. “Penyelamat air dimulai dari branch marking dengan melihat posisi bogor berada di level mana, apakah di level bawah, menengah atau atas,” ujarnya.

Menurutnya, penelitian yang sedang dilakukan ini sangat memerlukan dukungan dan masukan dari masyarakat. Selain tentunya merangkul stakeholder terkait agar permasalahan air terutama di Bogor, Cibinong dan Sentul City dapat diatasi. “Kita buat program agar air hujan tidak lagi dibuang begitu saja, tetapi sebaliknya air hujan ditangkap yang kita sebut dengan pemanenan air hujan,” imbuhnya.

Pemanenan air hujan, lanjut Hadi

Dapat dilakukan dengan cara di setiap komplek perumahan diwajibkan membuat rain garden yakni taman untuk memanen air hujan. Taman tersebut dibawahnya terdapat lubang resapan untuk menangkap air, kemudian tanamannya yang bisa menangkap polutan. “Selama ini kalau hujan turun airnya dibiarkan masuk ke drainase tapi dengan lubang resapan airnya ditampung. Dan lubang resapan ini harus dibuat dimana-mana, bisa di tepi sungai, tepi danau air agar tidak digelontorkan tapi ditahan” jelasnya.

Hadi menambahkan, hasil tindaklanjut dari penelitian ini akan dipetakan pada April 2018 dan puncaknya akan ada kegiatan serupa pada November 2018 mendatang. “Nanti baru implementasi urban desainnya. Sebab ini targetnya jangka panjang 28 tahun dari sekarang tepatnya 100 tahun setelah Indonesia merdeka masyarakat jadi lebih sensitif air yakni memahami betul air sebagai sumber kehidupan,” imbuhnya.

Sementara itu

Wali Kota Bogor Bima Arya yang hadir sebagai keynote speaker mengatakan, tidak ada kota di Indonesia yang lekat dan dekat dengan air kecuali Kota Bogor sebagai kota hujan. Tak ayal, sebagai kota yang lekat dengan air dan menjadi lintasan sungai Cisadane dan Ciliwung sangat aneh jika Bogor kekeringan saat kurang hujan.

“Bogor tempo dulu tidak ada banjir, tapi sekarang setiap hujan besar saya, camat dan lurah deg-degan takut longsor, banjir, genangan dimana-mana. Diskusinya pun tidak berhenti-henti apa karena drainase, sampah, sistem, atau lain-lainnya,” katanya.

Bima menuturkan

Beberapa masalah air tersebut tidak terlepas dari manajemen air di masa lampau yang menganggap air hanya di dorong mengalir ke sungai. Cara pandang warga yang setiap ada banjir, longsor menganggap itu masalah yang hanya perlu diatasi pemerintah. Kemudian adapula drainase dan limbah yang menjadi satu dikarenakan belum ada pemikiran maju untuk memilah.

“Paradigma mengalirkan air hujan harus diganti dengan menahan dan memanfaatkan. Kekeringan yang terjadi di Bogor mungkin karena semuanya terbuang. Sekarang drainase juga perlu dipisah mana saluran untuk limbah mana untuk air. Tapi kami bersyukur sekarang sudah banyak yang peduli menangkap air dan membuat penghijauan,” kata Bima.

Artikel terkait :