Pengembangan Kewirausahaan “Kemplang Tunu” Sebagai Industri Rumahan

Pengembangan Kewirausahaan “Kemplang Tunu” Sebagai Industri Rumahan

Pengembangan Kewirausahaan “Kemplang Tunu” Sebagai Industri Rumahan

Pengembangan Kewirausahaan “Kemplang Tunu” Sebagai Industri Rumahan

Pengembangan Kewirausahaan “Kemplang Tunu” Sebagai Industri Rumahan

Tim Pengabdian Universitas Indo Global Mandiri yang diketuai oleh Ibu Terttiaavini, S.Kom.,M.Kom.

Dan beranggotakan Dr. Luis Marnisah, Bpk Yosef Yulius S.Sn., M.Sn, Bpk Tedy Setiawan Saputra, SE, MM dan Annisa Fitriani (Mhs Jurusan Teknik Informatika IGM). Mengadakan kegiatan pelatihan dan sosialisasi bagi ibu rumah tangga dan remaja di Rt 33 No 21 Kelurahan Ario Kemuning Palembang yang menjadi mitra binaan.
Tema dari Kegiatan tersebut adalah “Pengembangan Kewirausahaan Kemplang Tunu Sebagai Produk Cemilan Khas Kota Palembang”. Kegiatan ini didanai oleh DRPM Ristekdikti melalui Hibah Program Ipteks Bagi Masyarakat (IbM) tahun 2019.

Produk yang menjadi target pengembangan adalah kemplang tunu. Kemplang tunu merupakan

salah satu cemilan khas masyarakat Sumatera Selatan yang sampai saat ini banyak diminati. Kemplang tunu secara turun temurun telah diproduksi dengan cita rasa dan teknik pembuatan yang khas dengan harga yang sangat terjangkau. Sampai saat ini kemplang tunu sangat digemari diberbagai lapisan masyarakat baik tua maupun muda.
Tim pengabdian berharap kemplang tunu dapat juga dikenal sebagai makan khas Kota Palembang. Seperti pempek, tekwan dll yang sudah dahulu mendunia. Namun saat ini permasalahanya adalah kemplang tunu belum banyak dikenal oleh masyarakat luar Palembang. Karena market penjulannya masih sangat terbatas yaitu di Jl. Pipa Reja Kelurahan Kemuning.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Maka sasaran yang ingin dicapai adalah

meningkatkan brand image kemplang tunu menjadi cemilan khas kota Palembang. Dan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat ekonomi lemah di lingkungan mitra.

Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 04 dan 08 agustus 2019 di rumah ibu Mardiana selaku ketua kelompok Mitra. Yang dihadiri oleh 35 peserta. Kegiatan yang dilaksanakan selama 2 hari dengan judul materi. Yakni pelatihan membuat kemplang tunu dengan nara sumber Ibu Nur Azizah. Lalu Pelatihan pencatatan administrasi penjualan kemplang tunu (pembukuan) dengan nara sumber Ibu Dr. Luis Marnisah. Kemudian Pelatihan tentang pengenalan bentuk Packaging shape (bentuk kemasan). Dan merancang logo yang menarik untuk meningkatkan brand image kemplang tunu dengan nara sumber Bpk. Yosef Yulius, S.Sn, M.Sn. Dan sosialisasi tentang pengurusan izin usaha, nara sumber Bpk. Tedy Setiawan Saputra, SE, MM.

 

Baca Juga :

Seminar Kebangsaan di Paramount School

Seminar Kebangsaan di Paramount School

Seminar Kebangsaan di Paramount School

Seminar Kebangsaan di Paramount School

Seminar Kebangsaan di Paramount School

Guna memupuk rasa kebangsaan, cinta tanah air dan toleransi beragama, Paramount School

mengadakan seminar kebangsaan yang bertemakan “Memupuk Cinta Tanah Air dan Nasionalisme”, bertempat di Aula Paramount, Jumat siang. Acara seminar dihadiri para pendidik, para siswa dan sebagian orang tua.

Menurut Ketua Yayasan Paramount, Rinaldo Alimin Spd , rencana seminar dihadiri oleh Kepala Staff

Kasdam II/Sriwijaya BRIGJEND TNI SYAFRIAL, psc, M.Tr (Han) . ” Namun beliau berhalangan hadir dan akhirnya di wakili oleh Waaster Kasdam Letkol. Inf. Debok Sumantokoh,” jelasnya

Saat seminar beliau menyampaikan agar anak-anak mencintai tanah air dengan mengajak mencintai budaya asli Indonesia dan menghindari budaya asing yang negatif.

Program seminar merupakan program terbaru Paramount School yg akan di adakan secara berkala

dengan mengundang tokoh inspiratif. Harapannya dapat menginspirasi anak-anak untuk mengejar cita-cita mereka, jelas Rinaldo

 

Sumber :

https://t.me/belajarngeblogbareng/15

Lihat Nih… Murid Praktek Memandikan-Salat Jenazah

Lihat Nih… Murid Praktek Memandikan-Salat Jenazah

Lihat Nih… Murid Praktek Memandikan-Salat Jenazah

Lihat Nih… Murid Praktek Memandikan-Salat Jenazah

Lihat Nih… Murid Praktek Memandikan-Salat Jenazah

Madrasah Ibtidaiyah Al-Adli Palembang melaksanakan praktek memandikan dan Salat Jenazah di

halaman MTs Al-Adli, Jumat (4/10) pukul 08.30 WIB.

Siswa kelas V dan VI MI serta kelas VIII MTs Al-Adli mengikuti praktek tata cara memandikan dan menyalatkan jenazah dibimbing guru Fiqih H Abdal Nasution SAg dan dewan guru lainnya.

Kain kafan pun disiapkan untuk mengukur ukuran mayat yang akan dikafani usai dimandikan. Patung ukuran manusia digunakan sebagai pengganti mayat yang akan dimandikan.

Satu murid diminta untuk membersihkan tubuh yang diperhatikan murid lainnya untuk

mengetahui proses memandikan jenazah. Satu per satu anggota bagian tubuh patung dibersihkan dan disiram menggunakan air bersih sembari melafazkan zikir.
Murid diajari
Murid diajari memandikan jenazah. foto: istimewa

Usai dimandikan, beberapa murid diminta untuk mengangkat patung dan dibaringkan di aula

untuk dikafani. Setelah dikafani, mayat pun disalatkan secara berjamaah.
H Abdal Nasution mengatakan bahwa praktek memandikan dan menyalatkan jenazah ini sudah dipelajari murid MI yang duduk di kelas V dan VI. Untuk MTs, pelajarannya ada di kelas VIII. Karena itu, hari ini (4/10) praktek digelar agar murid tahu.

“Selama ini murid hanya belajar teori, namun hari ini (4/10) kita gelar praktek. Saya yakin murid akan mengetahui bagaimana memandikan dan menyolatkan jenazah,” kata Abdal.

Dia menegaskan bahwa dalam memandikan jenazah, tidak ada bacaan khusus. Yang penting yang memandikannya dalam keadaan suci dan membaca zikir selama membersihkan dan menyirami tubuh mayit.

 

 

Sumber :

https://www.openjournals.wsu.edu/index.php/landescapesarchived/comment/view/282/0/709239

Planning Marketing Mix Strategies In The Presence Of Interaction Effects

Planning Marketing Mix Strategies In The Presence Of Interaction Effects

Planning Marketing Mix Strategies In The Presence Of Interaction Effects

Planning Marketing Mix Strategies In The Presence Of Interaction Effects

Planning Marketing Mix Strategies In The Presence Of Interaction Effects

PLANNING MARKETING-MIX STRATEGIES IN THE PRESENCE OF INTERACTION EFFECTS: EMPIRICAL AND EQUILIBRIUM ANALYSES

ABSTRACT
Companies spend millions of dollars on advertising to boost a brand’s image, while simultaneously spending millions of dollars on promotion that calls attention to price and erodes brand equity. This situation arises because both advertising and promotion are necessary to compete effectively in dynamic markets. Consequently, brand managers need to account for interactions between marketing activities and interactions among competing brands in determining the appropriate level of budget and its allocation to marketing activities. By recognizing interaction effects between activities, managers can consider inter-activity tradeoffs in planning the marketing mix strategies. On the other hand, by recognizing interactions with competitors, managers can incorporate strategic foresight in their planning, which requires them to look forward and reason backwards in making optimal decisions. Looking forward means that each brand manager anticipates how other competing brands are likely to make future decisions and then, by reasoning backwards, deduces one’s own optimal decisions in response to the best decisions to be made by all other brands. The joint consideration of interaction effects and strategic foresight in planning marketing-mix strategies is a challenging and open marketing problem, which motivates this paper.
In this paper, we develop a methodology for planning optimal marketing-mix in dynamic competitive markets, taking into account strategic foresight and interaction effects. To estimate and infer the existence of interaction effects, we design a Kalman filter that uses readily available
discrete-time market data to calibrate continuous-time marketing models of dynamic competition.
To develop optimal marketing-mix plans, we construct a computational algorithm for solving the nonlinear two-point boundary value problem associated with the derivation of equilibrium strategies.
We illustrate the application of this dual methodology by studying the dynamic Lanchester competition across five brands in the detergents markets, where each brand uses advertising and promotion to influence its own market share and the shares of competing brands. Empirically, we find that advertising and promotion not only affect the brand shares (own and competitors’), but also exert interaction effects, i.e., each activity amplifies or attenuates the effectiveness of the other activity. Moreover, if managers ignore these interaction effects, they are likely to believe that advertising and promotion are less effective than they actually are. Normatively, we find that large brands such as Tide and Wisk not only under-advertise, but also substantially over-spend on promotion. Thus, we provide support for the view that “escalation of promotion” may exist in some markets, a finding that Leeflang and Wittink (2001) attribute to managers’ lack of strategic foresight.
Finally, the generality of both the estimation method and computational algorithm enables managers to apply the proposed methodology to other market response models that reflect the marketing environment specific to their companies.

Baca Juga ;

Hubungan Gaya Kepemimpinan dengan Motivasi Kerja

Hubungan Gaya Kepemimpinan dengan Motivasi Kerja

Hubungan Gaya Kepemimpinan dengan Motivasi Kerja

Hubungan Gaya Kepemimpinan dengan Motivasi Kerja

Hubungan Gaya Kepemimpinan dengan Motivasi Kerja

Proses kepemimpinan secara singkat sering dikatakan sebagai cara untuk mencapai tujuan melalui orang lain. Orang lain disini bisa diartikan sebagai orang-perorang, atau sekelompok orang. Akan tetapi karena orang banyak itu terdiri dari individu dengan kebutuhan yang bervariasi, diperlukan kiat-kiat khusus untuk mengatur supaya kebutuhan, keinginan, dan kepentingan yang bermacam-macam tersebut bisa terakomodasi sehingga timbul dorongan atau motivasi untuk secara mandiri bekerja mencapai tujuan pribadi maupun kelompok. Dalam proses kepemimpinan, motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam kepemimpinan, karena memimpin adalah memotivasi. Seorang pemimpin harus bekerja bersama-sama dengan orang lain atau bawahannya, untuk itu diperlukan kemampuan memberikan motivasi kepada bawahan. Menurut Wahjosumidjo (1984), kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi, sebab keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat bergantung kepada kewibawaan, dan juga pemimpin itu di dalam menciptakan motivasi di dalam diri setiap orang bawahan, kolega maupun atasan pemimpin itu sendiri (p. 197).
Seorang pemimpin memotivasi pengikut melalui gaya kepemimpinan tertentu yang akan menghasilkan pencapaian tujuan kelompok dan tujuan individu. Pengikut yang termotivasi akan berusaha mencapai tujuan secara sukarela dan selanjutnya menghasilkan kepuasan. Kepuasan mengakibatkan kepada perilaku pencapaian tujuan yang diulang kembali untuk mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang.

Teori Sifat Kepemimpinan
Teori sifat mengasumsikan kepemimpinan tidak dilahirkan dan tidak dapat dibuat. Kepemimpinan terdiri dari karakter dan sifat yang diturunkan. Karakter

dan sifat tersebut yang membedakan seseorang sebagai pemimpin. Gheselli yang dikutip dari Manning dan Curtis (2005) mengidentifikasikan sifat kepemimpinan yang efektif (p. 16):
1. Need for achievement
Seorang pemimpin harus bertanggung jawab dan bekerja keras agar berhasil.
2. Intellegence
Pemimpin harus memiliki pertimbangan, alasan, dan pemikiran yang baik.
3. Decisiveness
Seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan tanpa keraguan.
4. Self Confidence
Seorang pemimpin harus memiliki kesan positif sebagai seorang yang
memiliki kemampuan.
5. Initiative
Pemimpin harus menjadi acuan, melakukan pekerjaan dengan pengawasan
yang minimal.
6. Supervisory Ability
Pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas secara baik kepada bawahannya.
Lebih lanjut Manning dan Curtis (p.29) menyatakan bahwa sepuluh kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk membantunya dalam proses kepemimpinan :
1. Visi
Syarat utama menjadi seorang pemimpin adalah memiliki visi yang baik. Visi menginspirasi yang lain dan menyebabkan seorang pemimpin dapat melakukan tugasnya.
2. Kemampuan
Seorang pemimpin harus memiliki pemahaman yang baik atas pekerjaanya.
Karyawan biasanya menunjukkan kesabaran kepada seorang pemimpin yang baru, tetapi mereka akan kehilangan kepercayaan kepada seorang pemimpin yang gagal dalam melaksanakan tugasnya
3. Antusiasme
Ciri dari seorang pemimpin yang baik yaitu memiliki antusiasme yang kuat.
Antusiasme yang ditunjukkan seorang pemimpin membangkitkan antusiasme bagi pengikutnya.
4. Stabilitas
Seorang pemimpin harus memiliki profesionalisme, dengan membedakan masalah perusahaan dengan masalah pribadi.
5. Memahami Sesama
Seorang pemimpin tidak boleh merendahkan bawahannya atau memperlakukan mereka seperti mesin. Seorang pemimpin harus memahami kesejahteraan bawahannya. Pengertian terhadap orang lain membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk mendengarkan permasalahan bawahannya.
6. Percaya Diri
Apabila seorang pemimpin kurang percaya diri, karyawan akan mempertanyakan otoritasnya, bahkan mengabaikan perintah.
7. Ketekunan
Seorang pemimpin memiliki kebulatan tekad dan ketekunan untuk menyelesaikan suatu masalah yang sulit.
8. Vitalitas
Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan dan stamina yang prima dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
9. Karisma
Seorang pemimpin harus memiliki karisma yaitu kemampuan untuk menarik perhatian pegawainya dan membuat mereka mengikutinya.
10. Integritas
Syarat paling penting seorang pemimpin adalah integritas, yaitu: kejujuran, karakter yang kuat, dan keberanian. Tanpa integritas maka tidak ada kepercayaan. Kepercayaan memimpin kepada rasa hormat, loyalitas, dan tindakan.

Sistem Pengendalian Manajemen Definisi dan Bentuk

Sistem Pengendalian Manajemen : Definisi dan Bentuk

Sistem Pengendalian Manajemen : Definisi dan Bentuk

Sistem Pengendalian Manajemen Definisi dan Bentuk

Sistem Pengendalian Manajemen Definisi dan Bentuk

Definisi Sistem Pengendalian Manajemen :
Menurut Suadi Sistem pengendalian manajemen adalah: sebuah sistem yang terdiri dari beberapa sub sistem yang saling berkaitan, yaitu: pemrograman, penganggaran, akuntansi, pelaporan, dan pertanggungjawaban untuk membantu manajemen mempengaruhi orang lain dalam sebuah perusahaan, agar mau mencapai tujuan perusahaan melalui strategi tertentu secara efektif dan efisien.” (1999:8-9).
Menurut Anthony dan Reece ( 1989:824 )sistem pengendalian manajemen adalah : nfluence members of the organization to implement the organization. yang kurang lebih memiliki arti bahwa sistem pengendalian manajemen memiliki fungsi pengendalian terhadap aktivitas-aktivitas dalam suatu organisasi yang diupayakan agar sesuai dengan strategi badan usaha untuk mencapai tujuannya.

Kegiatan pengendalian dapat diklasifikasikan dalam dua jenis yaitu, pengendalian manajemen (management control) dan pengendalian operasional (operational control). Pengendalian manajemen mengarah pada pengendalian kegiatan secara menyeluruh demi mendapatkan keyakinan bahwa strategi perusahaan telah dijalankan secara efektif dan efisien. Sedangkan pengendalian operasional hanya menyangkut tugas-tugas tertentu telah dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Dalam kaitannya dengan fungsi manajemen, pengendalian manajemen merupakan penerapan semua fungsi manajemen, Dikatakan demikian, karena dalam pelaksanaan pengendalian manajemen meliputi kegiatan perencanaan operasional perusahaan, pengorganisasian kegiatan, koordinasi kegiatan, pengendalian kegiatan dan pembinaan pelaksana kegiatan, Konsep sistem pengendalian manajemen juga diartikan sebagai manajemen secara keseluruhan. Sistem pengendalian manajemen adalah sistem yang menyeluruh ke semua aspek kegiatan perusahaan. Dalam proses pengendalian manajemen terdapat beberapa bagian kegiatan yaitu penyusunan program, penyusunan anggaran, pelaksanaan dan pengukuran kegiatan, serta pelaporan dan analisis kegiatan. Sedangkan dalam struktur perusahaan terdapat beberapa hal yaitu: struktur organisasi, aliran informasi, pusat pertanggungjawaban dan pelimpahan wewenang, serta tolok ukur prestasi dan motivasi.
Menurut Suadi (1999:10) konsep sistem pengendalian manajemen terkandung pengertian proses pengendalian, dan straktur pengendalian sebagai sistem pengendalian manajemen secara keseluruhan. Struktur diartikan sebagai suatu kerangka sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang membentuk sistem itu sendiri. Sedangkan proses di dalam konsep sistem pengendalian manajemen adalah untuk menjelaskan bagaimana bekerjanya masing-masing bagian di dalam sistem tersebut dalam pencapaian tujuannya, dan untuk memastikan bahwa hasil-hasil yang dicapai telah sesuai dengan rencana.
Salah satu elemen struktur pengendalian manajemen seperti yang telah dikemukakan itu adalah pusat pertanggungjawaban. Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu unit organisasi yang dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab. Suatu pusat pertanggungjawaban dapat dipandang sebagai suatu sistem yang mengolah masukan menjadi keluaran.
Sistem pengendalian manajemen terdiri dari Struktur pengendalian manajemen dan proses pengendalian manaj emen. Struktur pengendalian manajemen dinyatakan dalam bentuk unit organisasi dan sifat informasi yang ada diantara unit-unit ini. Secara umum sistem pengendalian manajemen akan berpusat pada bermacam-macam jenis pusat pertanggungjawaban. Sedangkan proses pengendalian manajemen meliputi hubungan komunikasi informal dan interaksi antara manajer dengan karyawan.
Hal ini ditegaskan oleh Anthony dan Dearden ( 1989:20 ) sebagai berikut: other managers and between managers and workers. These informal activities take place within a formal planning and control system. Such a formal system includes the following activities : (1) programming, (2)

Menurut Shillinglaw dan McGahran ( 1993:749 ) ada tiga macam bentuk pengendalian yaitu :
1. Personal controls
yaitu pengendalian yang ditekankan pada sikap dan motivasi orang yang terlibat dalam organisasi, misalnya penilaian karyawan dan kultur organisasi. Bentuk pengendalian ini merupakan serangkaian peraturan yang tidak tertulis.
2. Action controls
yaitu pengendalian yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan dan tugas yang diberikan kepada karyawan.
3. Result controls
yaitu pengendalian yang ditekankan pada hasil dari pelaksanaan operasi karyawan.

Sumber : https://pesantrenkilat.id/

DENDA BAGI SANG PENEROBOS

DENDA BAGI SANG PENEROBOS

DENDA BAGI SANG PENEROBOS

DENDA BAGI SANG PENEROBOS

Salah satunya kebijakan penting yang pernah diambil oleh pemerintah DKI Jakarta dalam mengurai kemacetan di ibukota adalah pemberlakuan angkutan massal bus Trans Jakarta. Hadirnya angkutan massal yang satu ini diharapkan menjadi salah satu solusi mengurangi pengguna kendaraan pribadi di Jakarta. Namun sayangnya, hadirnya Trans Jakarta ini malah semakin memperparah kemacetan di ibu kota. Jalur Trans Jakarta yang mengambil sebagian dari badan jalan kian mempersempit jalan yang ada, sementara itu pelebaran jalan tidak dilakukan.

Menghadapi kemacetan yang seakan-akan tidak pernah terurai, akhirnya banyak pengendara yang tidak sabar memilih untuk menerobos jalur Trans Jakarta. Hal ini tentunya bertentangan dengan peraturan yang ada, namun apa yang hendak di kata, semuanya sedang berlomba dengan kesibukan masing-masing yang entah kapan akan selesai.

Akhirnya tambah lagi tugas baru bagi pemerintah. Pemerintah kembali harus menghalau para penerobos tersebut dari jalur yang hanya diperuntukkan untuk bus Trans Jakarta. Berbagai cara pun dilakukan, mulai dengan meninggikan separator hingga memasang portal di jalur Trans Jakarta tersebut. Namun, pengedara yang “kreatif” tentu mampu mengelabui semua tindakan-tindakan pencegahan yang dilakukan. Setelah itu, kemacetan tetap belum terurai.

Polda Metro Jaya pun akhirnya membuat sebuah rencana baru, sebuah kebijakan akan diberlakukan. Pengendara yang menerobos jalur Trans Jakarta akan dikenakan denda, yaitu denda sebesar Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) bagi pengendara kendaraan roda dua dan denda sebesar Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) bagi pengendara kendaraan roda empat.

Tentu saja, dalam Undang-Undang Nomor Nomor 22 Taun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, ketentuan mengenai denda terhadap setiap pelanggaran lalu lintas bukan lah suatu hal yang asing. Dalam Undang-undang ini, ketentuan denda menjadi pidana pokok yang dapat diterapkan bagi pelaku pelanggaran lalu lintas. Lalu di mana hal baru yang membuat kebijakan ini menjadi spesial?

Ketentuan mengenai denda ini, jika mengacu pada ketentuan Pasal 287 ayat (2) Undang-Undang Lalu lintas dan Angkutan Jalan, tidak ada pembedaan denda terhadap kendaran roda dua dan kendaraan roda empat. Dalam Pasal tersebut, hanya mencantumkan denda maksimal Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) bagi pengendara yang melanggar larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas. Lalu ketentuan mengenai denda sebesar Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) bagi pengendara kendaraan roda empat menjadi tidak berdasar.

Baca Juga :

Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia Sebagai Makhluk Budaya

 Manusia dikatakan sebagai makhluk berbudaya karena manusia dengan anugerah Allah SWT berupa akal budi yang membedakan manusia dari makhluk lain, mampu menciptakan kebudayaan.

  1. Manakah yang benar, kebudayaan adalah produk manusia atau manusia adalah produk kebudayaan?  Jawab:Kebudayaan adalah produk manusia karena manusia adalah pecipta kebudayaan.
  2. Perbedaan antara etika dan estetika: etika berkaitan dengan nilai tentang baik-buruk, sedangkan estetika berkaitan dengan hal yang indah-jelek.
  3. Tiga perilaku tidak menghargai manusia:
  4. Kekerasan terhadap pembantu rumah tangga
  5. Pemerkosaan
  6. Perilaku membunuh
  7. Masalah yang dihadapi pada kasus pewarisan kebudayaan:
  8. Sesuai atau tidaknya budaya warisan tersebut dengan dinamika masyarakat saat sekarang.
  9. Penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya tersebut.
  10. Munculnya budaya baru yang tidak lagi sesuai dengan budaya warisan.

Sumber :https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

Pengantar ISBD

Pengantar ISBD

Pengantar ISBD

Pengantar ISBD

Pengantar ISBD

  1. Kajian ISD:
  • Individu, keluarga, dan masyarakat.
  • Masyarakat kota dan masyarakat desa.
  • Masalah penduduk.
  • Pelapisan sosial.
  • Pemuda dan sosialisasi.
  • Ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan.
  1.  Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. => MenurutSoerjono Soekanto
  2. Perbedaan antara pengetahuan budaya dan ilmu sosial dasar (IBD) adalah pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai manusia sebagai makhluk berbudaya, sedangkan IBD mengkaji masalah kemanusiaan dan budaya.
  3. Kompetensi dasar yang ingin dicapai setelah belajar ISBD adalah menjadi ilmuwan dan profesional yang berpikir kritis, kreatif, sistemik dan ilmiah, berwawasan luas, etis, memiliki kepekaan dan empati terhadap solusi pemecahan masalah sosial dan budaya secara arif.
  4.  ISBD diberikan pada mahasiswa yang memiliki latar belakang ilmu alam dimaksudkan agar pendekatan sosial dan budaya senantiasa dipertimbangkan dan melandasi setiap upaya mencari solusi atas pemecahan dari masalah yang mereka hadapi. Dengan demikian, mahasiswa sebagai calon ilmuwan dan profesional harapan bangsa mampu bertindak secara arif dan bijaksana.

Sumber : https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

Race Pertama, Sapuangin dan Nogogeni Pimpin Klasemen

Race Pertama, Sapuangin dan Nogogeni Pimpin Klasemen

Race Pertama, Sapuangin dan Nogogeni Pimpin Klasemen

Race Pertama, Sapuangin dan Nogogeni Pimpin Klasemen

Race Pertama, Sapuangin dan Nogogeni Pimpin Klasemen

Sebelum bertarung di race pertama Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2018, tim Sapuangin dan

Nogogeni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjalani uji coba lintasan lebih dulu untuk menguji kemampuan mobil sesuai target di sirkuit Changi Exhibition Center, Singapura, Jumat (9/3) siang.

Tiap tim dari masing-masing kategori diberi kesempatan untuk melakukan uji coba lintasan satu kali sebanyak sembilan lap sesuai yang ditentukan. Uji coba ini lebih untuk melihat kesiapan mobil sebelum berlaga yang sesungguhnya. Uji coba dilaksanakan sebelum dilakukan seremoni pembukaan oleh panitia.

Race pertama ditujukan untuk kategori Prototype yang diikuti oleh 61 tim. Sedangkan race kedua

untuk kategori Urban Concept yang diikuti oleh 65 tim, termasuk dua tim dari ITS.

BACA JUGA – Pertamina Gandeng Mahasiswa ITS Ciptakan Inovasi Bidang Listrik

Untuk race yang berlangsung hingga malam, mobil-mobil hemat energi ini harus merampungkan sembilan lap lintasan, di mana tiap sekali lap lintasan berjarak sekitar 1,2 kilometer. Ini berlaku untuk semua jenis kategori mobil dan bahan bakar.

Billy Firmansyah, Manajer non teknis tim Sapuangin, mengungkapkan bahwa saat race pertama ini

mengalami sedikit gangguan pada laju kendaraan. Hal ini dikarenakan kencangnya angin yang bertiup di lintasan yang kebetulan berlokasi tepat di pinggir laut.

“Namun secara internal mobil sudah sangat siap, karena itu akan dilakukan trick khusus untuk race selanjutnya agar hasilnya bisa maksimal,” tutur Billy.

Sementara tim Nogogeni mengalami sedikit miskomunikasi saat inspeksi sebelum start race, karena petugas inspeksi yang sedikit kurang paham. Namun setelah melakukan race, selain mengalami kendala karena kencangnya angin juga, juga dikarenakan ada beberapa peserta yang melakukan beberapa tindakan di luar prosedur saat beradu di lintasan.

 

Baca Juga :