Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam di Indonesia

Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam di Indonesia

Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam di Indonesia

Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam di Indonesia

Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam di Indonesia

Permasalahan lingkungan hidup itu muncul karena keterbatasan jumlah dan persebaran sumber daya alam (SDA) serta jumlah manusia terus meningkat. Berdasarkan hal tersebut, pemanfaatan SDA oleh manusia harus memperhitungkan kesinambungan kehidupan pada masa akan datang.

Pemanfaatan SDA dalam hubungannya dengan upaya pelestarian lingkungan hendaknya mengacu kepada rambu-rambu hukum. Beberapa rambu-rambu hukum dan perundang-undangan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Undang-Undang No. 11 Tahun 1974 tentang pengairan, yang mengatur kelestarian air dan sumber-sumber air. Kelestarian air harus dijaga, dilindungi, dan diamankan, serta dipertahankan, antara lain dengan cara
1) melakukan usaha penyelamatan tanah dan air;
2) melakukan pengamanan dan pengendalian daya rusak air, sumber-sumber air, dan daerah sekitarnya;
3) mencegah terjadinya pencemaran air yang dapat merugikan pengguna dan lingkungannya.

b. Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. Tujuan pengelolaan lingkungan hidup, antara lain
1) penyelarasan hubungan manusia dengan lingkungan hidup sebagai salah satu bagian dari tujuan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya;
2) pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan terkendali;
3) pembentukan manusia Indonesia yang mencintai dan berperan sebagai pembina lingkungan hidup melalui pendidikan lingkungan hidup, baik melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah;
4) pembangunan berwawasan lingkungan demi kepentingan generasi sekarang dan mendatang;
5) perlindungan negara dari berbagai pengaruh luar yang bisa merusak dan mencemarkan lingkungan.

c. Untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan hidup, misalnya tertuang di dalam Pasal 9, UU No. 4 Tahun 1982, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Beberapa contoh upaya pelestarian lingkungan hidup yang dapat dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari, misalnya berikut ini.
1) Reboisasi adalah proses penghutanan kembali daerah yang telah gundul, terutama di dataran tinggi dan atau daerah pegunungan yang berfungsi sebagai daerah resapan air.

2) Pembuatan sengkedan (terasering) dan lorak mati pada lahan yang relatif miring. Pembuatan sengkedan agar air hujan memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah dan juga untuk mengurangi kadar erosi tanah permukaan.

3) Penanaman pohon penyangga, berupa tanaman keras untuk mencegah terjadinya curahan air secara langsung ke atas permukaan tanah. Curahan langsung akan menyebabkan erosi tanah sehingga humus dan hara tanah akan hilang terkikis air dan akhirnya tanah akan menjadi pucat.

4) Daur ulang adalah proses pemanfaatan limbah atau buangan industri berupa barang bekas yang diolah kembali menjadi produk yang sama atau produk baru yang bernilai ekonomis, misalnya daur ulang kertas bekas menjadi kertas baru. Daur ulang ini selain bermanfaat secara ekonomis, juga bermanfaat bagi kelestarian lingkungan.

d. Sesuai dengan ketentuan Pasal 6 UU No. 4 Tahun 1982, setiap orang dapat dan berhak berpartisipasi di dalam usaha pengelolaan lingkungan hidup. Salah satu langkah penting yang mendahuluinya adalah menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan.

Baca Juga : 

Upaya Peningkatan Produksi Pertanian

Upaya Peningkatan Produksi Pertanian

Upaya Peningkatan Produksi Pertanian

Upaya Peningkatan Produksi Pertanian

Upaya Peningkatan Produksi Pertanian

Tujuan pembangunan pertanian ialah untuk terus menerus meningkatkan produksi pertanian, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, untuk menyediakan bahan baku industri di dalam negeri maupun untuk menambah devisa negara serta memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan petani, mendorong pemerataan pendapatan dan kesempatan berusaha dengan memperhatikan kelestarian sumber daya. Untuk meningkatkan produksi pertanian dapat dilakukan dengan ekstensifikasi, intensifikasi, mekanisasi, diversifikasi, dan rehabilitasi pertanian.

1) Ekstensifikasi pertanian
Ekstensifikasi pertanian adalah upaya untuk meningkatkan produksi pertanian dengan memperluas lahan pertanian. Ekstensifikasi pertanian dilakukan oleh pemerintah apabila persediaan hutan masih luas dan kepadatan penduduk rendah, terutama di luar Pulau Jawa (Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Irian). Pemerintah juga melaksanakan program pembuatan sawah dengan memanfaatkan lahan gambut yang dikenal dengan program lahan gambut sejuta hektare di Kalimantan.

2) Intensifikasi pertanian
Intensifikasi pertanian adalah upaya untuk meningkatkan produksi pertanian dengan luas lahan pertanian tetap. Usaha ini dilaksanakan dengan cara saptausaha tani, yaitu
a) pengolahan tanah yang baik;
b) pemilihan bibit unggul, misalnya IR.34, IR.36, IR.40, VUTW (varietas unggul tahan wereng) , sri gadis, bengawan, jelita, dan intan;
c) irigasi atau pengairan yang teratur;
d) pemupukan yang meliputi pemupukan organik dan pemupukan anorganik;
e) pemberantasan hama;
f) pascapanen adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan masa sesudah panen;
g) distribusi atau penyaluran hasil.

3) Mekanisasi pertanian
Mekanisasi pertanian adalah usaha untuk meningkatkan produksi pertanian dengan menggunakan mesin modern.

4) Diversifikasi pertanian
Diversifikasi pertanian adalah upaya untuk meningkatkan produksi dengan menanam bermacam-macam tanaman di lahan pertanian.

5) Rehabilitasi pertanian
Rehabilitasi pertanian adalah upaya untuk meningkatkan produksi pertanian dengan cara mengganti tanaman kurang produktif dengan tanaman produktif dan memperbaiki cara-cara bercocok tanam.

Sumber : https://galleta.co.id/

Wujud Benda

Wujud Benda

Wujud Benda

Wujud Benda

Wujud Benda

Sekarang kita akan mengidentifikasikan wujud benda. Berdasarkan wujudnya benda dapat dibagi menjadi tiga, yaitu benda padat, benda cair, dan benda gas.

1. Benda Padat
Perhatikan benda-benda di sekitarmu! Adakah meja, bangku, dan kursi? Adakah pensil, buku, dan penggaris? Adakah lemari, papan tulis, kayu, dan batu? Termasuk benda apakah semua itu? Bagaimana sifat benda itu?

2. Benda Cair
Perhatikan benda-benda di sekitarmu! Adakah air? Termasuk benda apakah air itu? Coba sebutkan benda cair lainnya! Bagaimana sifat benda cair?

Untuk mengetahui sifat benda cair, lakukanlah kegiatan berikut!
a. Alat dan Bahan
1) Gelas plastik
2) Botol plastik
3) Air
4) Timbangan
b. Cara Kerja

1) Timbanglah botol plastik kosong dengan timbangan, catatlah beratnya. Isi botol tersebut dengan air!
2) Timbanglah kembaii botol berisi air tersebut! Apakah hasilnya sama dengan botol kosong?
3) Pindahkan air yang berada di dalam botol ke dalam gelas plastik! Apakah bentuknya berubah? Apakah ukurannya berubah?

c. Bahan Diskusi
1) Apakah seluruh ruangan botol terisi penuh air?
2) Apakah benda cair memiliki berat?
3) Bagaimanakah sifat benda cair itu?

3. Benda Gas
Apakah yang dipompakan ke dalam ban sepeda? Kalau kamu meniup balon, apakah yang kamu masukkan ke dalam balon? Benda yang kamu masukkan ke dalam balon dan ban sepeda tersebut adalah udara. Apakah udara dapat kita rasakan? Ban yang dipompa secara terus-menerus akan menjadi keras karena udara menekan ban dari dalam.

Meskipun udara tidak dapat kita lihat, tetapi keberadaannya dapat kita rasakan. Hal ini dapat terjadi saat kita berada di dekat balon yang terbuka. Kita dapat merasakan hembusan udara keluar dari mulut balon tersebut. Benda yang tidak dapat kita lihat, tetapi dapat kita rasakan itu adalah benda gas. Udara termasuk benda gas. Benda gas biasanya tidak berwarna, ada yang berbau, dan ada yang tidak berbau.

Jadi, benda gas bersifat mengisi ruangan yang ditempatinya. Bentuk dan besar benda gas selalu berubah.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Metode Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan Data

Pada bahasan sebelumnya telah dibahas tahapan-tahapan dalam menulis karya tulis ilmiah. Sekarang mari kita bahas metode apa saja yang dapat digunakan dalam pengumpulan data.

Dalam penulisan karya ilmiah, pengumpulan data merupakan salah satu hal yang harus dilakukan guna mencapai tujuan penulisan. Ada 3 metode pengumpulan data, yakni :

1. Wawancara

  • Merupakan sebuah pertukaran informasi antara pewawancara dengan yang diwawancarai.
  • Perlu ada perencanaan dan tujuan khusus.
  • Terdiri dari pertanyaan dan menjawab pertanyaan.
  • Tujuannya mendapatkan informasi dari narasumber/informan untuk keperluan proses pengambilan maupun evaluasi kebijakan publik.
  • Metode yang paling efektif.
  • Ada 2 tipe pertanyaan dalam wawancara :
    • Open-Ended(Terbuka)
      • Pertanyaan ini netral dan tidak dibatasi.
      • Pewawancara mengijinkan secara bebas orang yang diwawancarai dalam menjawab pertanyaan, dan pewawancara menganjurkan narasumber memberikan informasi yang tidak diketahui sebelumnya kepada pewawancara.
    • Closed-Ended(Tertutup)
      • Pewawancara lebih mudah mengontrol narasumber, karena apa yang akan ditanyakan sudah pasti dan menghindari narasumber menjawab bebas.
  • Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara :

a.       Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.

b.      Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.

c.       Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.

  • Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu :

a.       Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.

b.      Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.

c.       Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.

d.      Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviewer.

2. Observasi

  • Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
  • Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
  • Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena :

a.       Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.

b.      Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.

c.       Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.

d.      Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.

e.       Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.

3. Kuisioner

  • Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan oleh periset untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan.
  • Macam-macam bentuk kuisioner :
    • Kuisioner Terstruktur Terbuka
      • Tingkat struktur dalam kuesioner adalah tingkat standarisasi yang diterapkan pada suatu kuesioner. Pada kuesioner terstruktur yang terbuka dimana pertanyaanpertanyaan diajukan dengan susunan kata-kata dan urutan yang sama kepada semua responden ketika mengumpulkan data.
    • Kuisioner Tak Terstruktur Terbuka
      • Kuesioner tak terstruktur yang terbuka dimana tujuan studi adalah jelas tetapi respon atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka.
    • Kuisioner Tak Terstruktur Tersamar
      • Kuesioner tidak terstruktur yang tersamar berlandaskan pada riset motivasi. Para periset telah mencoba untuk mengatasi keengganan responden untuk membahas perasaan mereka dengan cara mengembangkan teknik-teknik yang terlepas dari masalah kepedulian dan keinginan untuk membuka diri. Teknik tersebut dikenal dengan metode proyektif. Kekuatan utama dari metode proyektif adalah untuk menutupi tujuan utama riset dengan menggunakan stimulus yang disamarkan.
      • Metode proyektif merupakan cara yang digunakan untuk menggambarkan kuesioner yang mengandung stimulus yang memaksa para subjek untuk menggunakan emosi, kebutuhan, motivasi, sikap, dan nilai-nilai yang dimilikinya sendiri dalam memberikan suatu jawaban atau respon.
      • Stimulus yang paling sering digunakan adalah asosiasi kata, kelengkapan kalimat, dan bercerita atau penuturan cerita.
    • Kuisioner Terstruktur Tersamar
      • Kuesioner terstruktur yang tersamar merupakan teknik yang paling jarang digunakan dalam riset pemasaran. Kuesioner ini dikembangkan sebagai cara untuk menggabungkan keunggulan dari penyamaran dalam mengungkapkan motif dan sikap dibawah sadar dengan keunggulan struktur pengkodean serta tabulasi jawaban.

Baca Juga : 

Karya Non Ilmiah

Karya Non Ilmiah

Karya Non Ilmiah

Karya Non Ilmiah

Karya Non Ilmiah

1. Definisi

Karya non ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang populer atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).

2. Ciri-ciri

  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi dan umumnya bersifat subyektif.
  • Topik dan cara penyajiannya bervariasi, tetapi tidak didasari fakta umum.
  • Bahasanya konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis.

3. Macam-macam

  • Dongeng
Suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya.
  • Cerpen
Suatu bentuk naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang.
  • Novel

Sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Biasanya dalam bentuk cerita.

  • Drama

Suatu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor.

  • Roman

Sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.

4. Sifat karya non ilmiah

  • Emotif : Sedikit informasi, kemewahan dan cinta menonjol, melebuhkan kebenaran mencari keuntungan, tidak sistematis.
  • Persuasif : Cukup informatif, penilaian fakta tidak dengan bukti, bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap dan cara berpikir pembaca.
  • Deskriptif : Informasi sebagian imaginatif dan subyektif, nampaknya dapat dipercaya, pendapat pribadi.
  • Kritik tanpa dukungan bukti : Tidak memuat informasi spesifik, berisi bahasan dan kadang-kadang mendalam tanpa bukti, berprasangka menguntungkan atau merugikan, formal tetapi sering dengan bahasa kasar, subyektif dan pribadi.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

Ciri-ciri karya ilmiah

Ciri-ciri karya ilmiah

Ciri-ciri karya ilmiah

Ciri-ciri karya ilmiah

  • Objektif =>Keobjektifan ini tampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memvertifikasi) kebenaran dan keabsahannya.
  • Netral =>Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
  • Sistematis =>Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
  • Logis =>Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
  • Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan) =>Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
  • Tidak pleonastis =>Kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat. Kata-katanya jelas atau tidak berbelit- belit (langsung tepat menuju sasaran).
  • Bahasa yang digunakan adalah ragam formal.

4. Macam-macam karya ilmiah

a. Artikel ilmiah

  • Merupakan karya tulis yang dirancang untuk dimuat di jurnal atau buku kumpulan artikel, ditulis dengan tatacara ilmiah, dan disesuai dengan konvensi ilmiah yang berlaku.
  • Artikel dapat dipilah menjadi dua:
    • Artikel hasil penelitian
    • Artikel nonpenelitian.

b. Makalah ilmiah

  • Karya tulis yang memuat hasil pemikiran tentang masalah, disusun secara sistematis dan runtut, dan disertai analisis yang logis dan objektif.
  • Makalah dibedakan menjadi dua :
    • Makalah teknis
    • Makalah nonteknis

c. Laporan Penelitian: Karya tulis yang berisi paparan proses dan hasil penelitian.

Sumber : https://cialis.id/

Pengertian kebudayaan

Pengertian kebudayaan

Pengertian kebudayaan

Pengertian kebudayaan

Pengertian kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Unsur-Unsur

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
alat-alat teknologi
sistem ekonomi
keluarga
kekuasaan politik
Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
organisasi ekonomi
alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
organisasi kekuatan (politik)

Baca Juga :

Definisi Budaya

Definisi Budaya

Definisi Budaya

Definisi Budaya

Definisi Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1] Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[1]

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Sumber : https://bingo.co.id/

Budaya atau kebudayaan

Budaya atau kebudayaan

Budaya atau kebudayaan

Budaya atau kebudayaan

Budaya atau kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Daftar isi

1 Definisi Budaya
2 Pengertian kebudayaan
3 Unsur-Unsur
4 Wujud dan komponen
4.1 Wujud
4.2 Komponen
5 Hubungan Antara Unsur-Unsur Kebudayaan
5.1 Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
5.2 Sistem mata pencaharian
5.3 Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
5.4 Bahasa
5.5 Kesenian
5.6 Sistem Kepercayaan
5.6.1 Agama Samawi
5.6.2 Agama dan filsafat dari Timur
5.6.3 Agama tradisional
5.6.4 “American Dream”
5.6.5 Pernikahan
5.7 Sistem ilmu dan pengetahuan
6 Perubahan sosial budaya
7 Penetrasi kebudayaan
8 Cara pandang terhadap kebudayaan
8.1 Kebudayaan sebagai peradaban
8.2 Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”
8.3 Kebudayaan sebagai mekanisme stabilisasi
9 Kebudayaan di antara masyarakat
10 Kebudayaan menurut wilayah
11 Referensi
12 Daftar pustaka
13 Lihat pula
14 Pranala luar

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Hurgronye menegaskan

Hurgronye menegaskan

Hurgronye menegaskan

Hurgronye menegaskan

Hurgronye menegaskan

Selanjutnya Hurgronye menegaskan: “Gambaran yang diberikan dunia terakhir ini belum memperlihatkan, apakah melalui ethische politiek ataukah melalui exploitatie politiek, Indonesia akan terlepas dari negeri Belanda. Apabila orang bertanya, melalui saluran manakah daripada dua paham ini daerah jajahan dalam masa seratus tahun ini akan hilang, maka saya akan berkata, tidak akan suatu sebab yang akan lebih pasti melenyapkan daerah ini selain daripada cara pemerintahan kolonial itu yang tamak, seperti yang pernah ditempuh oleh kompeni Hindia Timur dan stelsel tanam paksa, yang pernah dijatuhkan hukuman oleh pengadilan masa dan sejarah di waktu yang lampau.” (Nederland en de Islam, hal. 19 dinukil dari Dunia Baru Islam, L. Stoddard, hal. 295 – 296, tanpa tahun).

Demikianlah sedikit gambaran tentang imperialisme Barat dari para tokoh ilmuwan Barat untuk sekedar membantu memberi gambaran betapa besar nuansa penjajahan dan penguasaan yang ada pada semangat imperialisme Barat terhadap segenap wilayah-wilayah yang dikuasinya melalui pendudukan. Amat jauh berbeda dengan nuansa humanistis yang ada dalam sejarah imperialisme Islam yang telah diakui oleh lawan maupun kawan.
Dr. Lothrop Stoddard menyampaikan penilaiannya sebagai seorang ilmuwan Barat tentang imperialisme Islam sebagai berikut: “Orang Arab tahu, bagaimana mengkonsolidasikan pemerintahan dan mengalihkannya ke tangan mereka. Mereka bukan bangsa yang haus darah, bukan bangsa yang gemar merampok dan memusnahkan. Sebaliknya, mereka adalah bangsa yang dianugerahi akhlaq tinggi, watak mulia, cinta kepada ilmu. Memandang baik kenikmatan budi pekerti, kenikmatan yang sampai kepada mereka, dari peradaban yang lebih tua.
Tatkala terjadi antara yang menang dan yang kalah kesatuan perkawinan dan kepercayaan (agama), tercapailah asimilasi diantara mereka. Asimilasi yang melahirkan kemajuan yang bernama Sarasin, hasil perpaduan antara kecerdasan Yunani, Rumawi dan Parsi dengan ketinggian dan kecerdasan Arab yang berlandaskan spirit Islam.

Dalam tiga abad pertama sejarahnya (650 – 1000 M.), bagian-bagian dunia yang dikuasai oleh Islam adalah bagian-bagian yang paling maju dan memiliki peradaban yang amat tinggi. Kerajaan penuh dengan kota-kota indah, penuh masjid megah, di mana-mana terdapat universitas, di dalamnya tersimpan peradaban-peradaban dan hikmah-hikmah lama ang bernilai tinggi. Kecemerlangan Islam Timur merupakan hal yang kontras dengan dunia Nasrani Barat, yang tenggelam dalam malam kegelapan zaman.” (Dunia Baru Islam, Dr. L. Stoddard, tanpa tahun).
Demikian pengakuan seorang ilmuwan Barat tentang Imperialisme Islam yang kiranya dapat mewakili pengakuan pihak lawan terhadap nuansa humanistis imperialisme Islam.

Baca Juga :