LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Table of Contents

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Langkah 1

Menciptakan suasana nyaman dan mendorong kesiapan peserta untuk menerima materi. Ini bisa dilakukan dengan fasilitator mempekenalkan diri dan berusaha untuk mengenali peserta. Selama interaksi awal ini upayakan menangkap sesuatu yang terobservasi dan dikaitkan dengan materi komunikasi dan motivasi, bangkitkan kehadiran yang utuh pada sesi ini dan peluang untuk mendapatkan manfaat jika interaksi ini bersifat parsipatoris.

Langkah 2

Pokok bahasan 1, sub pokok bahasan a: Pengertian, komponen, dan tujuan komunikasi

Kegiatan fasilitator:

Apapun yang terjadi pada kegiatan 1, gunakan itu sebagai awal untuk memulai mengantarkan peserta lebih mendalami lagi proses komunikasi antar manusia.

1.  Fasilitator membagikan materi yang akan dipelajari/dikaji  bersama. Mulailah dengan menggali komponen-komponen dari proses komunikasi antar manusia menurut pemahaman peserta. Peserta diminta untuk mempelajari gambar model  komunikasi universal dan lakukan curah pendapat dengan melakukan pertanyaan-pertanyaan.

  1. Membagi peserta ke dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 sampai 6 orang. Tugas kelompok: menyusun model diagram dari elemen/komponen komunikasi dari salah satu situasi komunikasi
  2. Memfasilitasi kegiatan diskusi kelompok.

Kegiatan peserta:

  1. Peserta mempelajari materi yang akan dipelajari/dikaji bersama kemudian mempelajari gambar model  komunikasi universal dan lakukan curah pendapat dengan melakukan pertanyaan-pertanyaan.
  2. Melakukan diskusi kelompok untuk menyusun model diagram dari elemen/komponen komunikasi dari salah satu situasi komunikasi.
  3. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok.

Langkah 3

Pokok bahasan 1, sub pokok bahasan b: Prinsip-prinsip komunikasi

Kegiatan fasilitator:

1.  Fasilitator memberi kesempatan untuk mempelajari sub pokok bahasan b.

2.  Untuk membantu peserta memahami prinsip-prinsip komunikasi antar manusia secara lebih baik atau pada situasi yang aktual, pada kegiatan ini dilakukan bermain peran (role play), bermain peran (role play) dapat dilakukan dengan meminta beberapa peserta memperagakan interaksi atau situasi komunikasi antara seorang pejabat fungsional yang sedang melaksanakan fungsi pelayanannya pada beberapa konsumen (masyarakat).

3.  Peserta yang lain dibagi diri dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3—4 orang untuk memusatkan perhatian pada satu atau dua prinsip komunikasi.

Kegiatan peserta:

  1. Mempelajari materi sub pokok bahasan b.

2. Melakukan kegiatan bermain peran dengan memperagakan interaksi atau situasi komunikasi antara seorang pejabat fungsional yang sedang melaksanakan fungsi pelayanannya pada beberapa konsumen (masyarakat).

3. Membahas dalam diskusi kelompok untuk memusatkan perhatian pada satu atau dua prinsip komunikasi.

  1. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan didiskusikan.

Langkah 4

Pokok bahasan 1, sub pokok bahasan c: Persepsi dalam kontek komunikasi dan pokok bahasan 2: Motivasi

Kegiatan fasilitator:

1. Fasilitator memberi kesempatan untuk mempelajari mengenai sub pokok bahasan c dan pokok bahasan 2.

2. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3—4 orang. Fasilitator memberikan beberapa contoh perilaku dan membahas apakah perilaku orang tersebut disebabkan oleh faktor internal atau eksternal serta mengidentifikasikan informasi yang terkandung dalam uraian perilaku.

3. Meminta peserta memberikan penjelasan menurut teori kepuasan dan teori proses.

Kegiatan peserta:

  1. Mempelajari materi sub pokok bahasan b.

2. Membagi diri dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3—4 orang. Mempelajari beberapa contoh perilaku dan membahas apakah perilaku orang tersebut disebabkan oleh faktor internal atau eksternal serta mengidentifikasikan informasi yang terkandung dalam uraian perilaku.

3. Meminta peserta memberikan penjelasan menurut teori kepuasan dan teori proses.

Langkah 5

Refleksikan kegiatan selama sesi berlangsung. Berikan kesempatan pada peserta untuk mengungkapkan hasil belajarnya dan memberikan rekomendasi kepada fasilitator atau penyelenggara agar sesi yang akan datang dapat lebih memberikan iklim yang kondusif dalam proses pembelajaran.

Akhir kegiatan, fasilitator melakukan umpan balik terhadap hasil belajar yang dicapai pada akhir sesi. Komentar lisan dicatat. Tayangkan catatan hasil belajar, lakukan klarifikasi dan simpulan seperlunya. Berikan penghargaan kepada peserta atas partisipasinya selama sesi berlangsung.

VI. URAIAN MATERI

POKOK BAHASAN 1. KOMUNIKASI

A. Pengertian komunikasi, komponen dan tujuan komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Pengertian komunikasi sudah banyak didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak orang yang mendifinisikannya. Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.

Gambar berikut menggambarkan apa yang dapat kita namakan model universal komunikasi. Ini mengandung elemen-elemen yang ada dalam setiap tindak komunikasi, terlepas dari apakah itu bersifat intrapribadi, antarpribadi, kelompok kecil, pidato terbuka, atau komunikasi masa.

2. Komponen Komunikasi

a. Lingkungan komunikasi

Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki tiga dimensi:

1.       Fisik, adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang nyata atau berwujud.

2. Sosial-psikoilogis, meliputi, misalnya tata hubungan status di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau,

3. Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah dimana komunikasi berlangsung.

Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan banyak perubahan lain. Proses komunikasi tidak pernah statis.

b. Sumber-Penerima

Kita menggunakan istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Anda mengirimkan pesan ketika anda berbicara, menulis, atau memberikan isyarat tubuh. Anda menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan sebagainya.

Tetapi, ketika anda mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda menerima pesan anda sendiri (anda mendengar diri sendiri, merasakan gerakan anda sendiri, dan melihat banyak isyarat tubuh anda sendiri) dan anda menerima pesan dari orang lain (secara visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman). Ketika anda berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan tanggapan (untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan sebagainya). Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda menjalankan fungsi penerima.

c.  Enkoding-Dekoding

Dalam ilmu komunikasi kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis) sebagai enkoding (encoding). Dengan menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Jadi, kita melakukan enkoding.

Kita menamai tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) sebagai dekoding (decoding). Dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan, anda menguraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding.

Oleh karenanya kita menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder), dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). Seperti halnya sumber-penerima, kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan fungsi-fungsi ini secara simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga menyerap tanggapan dari pendengar (dekoding).

d. Kompetensi Komunikasi

Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan anda untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain). Pengetabuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya kepatutan sentuhan, suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.

Dengan meningkatkan kompetensi anda, anda akan mempunyai banyak pilihan berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Proses ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan kata: Makin banyak kata anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi perbendaharaan kata anda), makin banyak cara yang anda miliki untuk mengungkapkan diri.

e.  Pesan

Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan komunikasi.

f.  Saluran

Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh, ini pun komunikasi (saluran taktil).

g. Umpan Balik

Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis.

Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik.

h. Gangguan

Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.

Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada orang lain berbicara), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala kita), atau semantik (salah mengartikan makna). Tabel dibawah menyajikan ketiga macam gangguan ini secara lebih rinci.

Sumber : https://cs.byu.edu/job-posting/understanding-juridical-basis-education