Guangzhou University dan UMM Kembali Jajaki Kerjasama

Guangzhou University dan UMM Kembali Jajaki Kerjasama

Guangzhou University dan UMM Kembali Jajaki Kerjasama

Guangzhou University dan UMM Kembali Jajaki Kerjasama

Guangzhou University dan UMM Kembali Jajaki Kerjasama

Sejumlah jajaran petinggi Guangzhou University, Republik Rakyat Tiongkok berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), beberapa hari lalu. Lawatan tersebut dimaksudkan untuk menemui pimpinan UMM menegosiasikan tawaran sejumlah program akademik bagi mahasiswa dan dosen kedua pihak.

Beberapa program yang dinegosiasikan di antaranya pemagangan dan pendidikan doktor atau setara S3. Kerjasama antara UMM dan Guangzho University sudah dijalankan sebelumnya lewat skema kursus bahasa Mandarin melalui Confucious Institute. Kursus ini bahkan telah diwajibkan di sejumlah program studi (prodi).

Sekretaris International Relation Office (IRO) UMM Listiari Hendraningsih mengatakan, kerjasama ini

sedianya terbatas hanya untuk beberapa program studi saja. Namun pihaknya menginginkan kerjasama ini juga dapat dijangkau prodi lain.
Baca Juga:

Berlaga di Italia, Atlet Karate UMM Sumbang Emas bagi Indonesia
Khutbah di UMM, Malik Fadjar: Idul Fitri Momentum Membangun Generasi Khaira Ummah
UMM Juara 3 Debat Konstitusi MK Regional Timur
UMM Terima Mandat Pengelolaan Kawasan Hutan dari Kementerian LHK
Mahasiswa UMM Dampingi Warga Kampung Ubah Sampah Jadi Berkah

“Secara garis besar kerjasama ini baik, serta dibutuhkan oleh kedua belah pihak. Baik Guangzho Universityu dan pihak UMM. Kedepan, memang akan diadakan student exchange, hubungan bilateral dengan berbagai skema yang akan dijalankan oleh perwakilan dosen dari masing masing prodi,” kata Listiari, Jumat, (28/6/2019).

Listiari menyebut, permasalahannya yang dihadapi saat ini di setiap subjek mata kuliah diwajibkan

untuk menulis dengan menggunakan huruf Hanzi dan bahasa Mandarin. Untuk itu, pihaknya meminta para dosen dalam terus berlatih menulis huruf Hanzi.

Sedangkan, divisi Kerjasama dan Penerapan IPTEK DPPM Djoko Sigit mengatakan, UMM akan menjalin kerjasama berupa Community Service, yang terkait dengan KKN dan magang. Bagi dosen, skema yang dijalankan yakni pemberian beasiswa strata tiga atau doktoral di Tiongkok.

“Kerjasama yang akan dilakukan juga berupa short term selama 2 bulan untuk beberapa prodi.

Beasiswa 6 bulan juga ditawarkan dari prodi bahasa Inggris, namun masih dirundingkan kebijakannya mulai dari biaya dan hal hal lain. Tak kalah penting, UMM juga menawarkan research collaboration yang dikerjakan bersama,” tandasnya.

 

Sumber :

https://cs.byu.edu/job-posting/how-low-budget-marriage-invitations

 

Enseval Dampingi Masyarakat Terapkan CDOB

Enseval Dampingi Masyarakat Terapkan CDOB

Enseval Dampingi Masyarakat Terapkan CDOB

Enseval Dampingi Masyarakat Terapkan CDOB

Enseval Dampingi Masyarakat Terapkan CDOB

PT Enseval Putera Megatrading Tbk (Enseval) melakukan pendampingan kepada para pelanggan Enseval yang menyalurkan obat untuk menerapkan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).

Enseval adalah salah satu anak usaha PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe). Kepala Komunikasi Eksternal & Hubungan Stakeholder PT Kalbe Farma Tbk Hari Nugroho, mengatakan, penerapan CDOB merupakan faktor penting dalam proses pendistribusian obat.

“Tujuannya memastikan mutu obat selama proses distribusi dan penyaluran, sehingga aman ketika

dikonsumsi oleh masyarakat,” katanya, dalam acara sosialisasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (27/6/2019).

Penerapan CDOB itu sudah disusun sejak tahun 2003, dan mulai tahun 2017 melalui Peraturan Kepala BPOM Nomor 25 Tahun 2017 tentang Tata Cara Sertifikasi Cara Distribusi Obat yang Baik. Pedagang Besar Farmasi (PBF) diwajibkan menerapkan pedoman teknis CDOB.
Baca Juga:

Polres Malang Bongkar Sindikat Produsen Jamu dan Obat Ilegal
UKDC Bersama BPOM Terus Dukung Pemanfaatan dan Pengembangan Fitofarmaka
Sejak Januari 2019, BPOM Amankan Kosmetik Ilegal Senilai Rp 58,9 Miliar
Gubernur Jatim Berencana Bangun Kantor BPOM di Pamekasan

Enseval memberikan bimbingan teknis kepada pelanggan dengan kategori PBF untuk menerapkan

CDOB berupa sosialisasi, training penerapan, pendampingan dalam proses pengurusan sertifikat CDOB. “Selain kepada PBF, Enseval juga melakukan pelatihan tentang cara penyimpanan obat yang benar di beberapa rumah sakit yang menjadi pelanggannya,” kata Area Business Manager Enseval Kota Jember Hendri Aryanto.

“Sedangkan bagi pelanggan yang dikategorikan sebagai apotik dan toko obat menjual obat, Enseval mendorong agar para pelanggan tersebut memiliki perizinan yang sesuai dengan dengan bidang usahanya, dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Kesehatan,” kata Hendri.

Enseval akan membantu memfasilitasi tenaga kefarmasian, untuk memastikan pelanggan telah

memiliki standar operasional prosedur (SOP) pada setiap fungsi yang telah dijalankan dengan baik. Selain itu, tenaga kefarmasian juga akan membantu pelanggan menyiapkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan

 

Sumber :

https://compass.centralmethodist.edu/ICS/Academics/OTA/OTA107__CM16/SPRG_2017_UNDG-OTA107__CM16_-A/Blog_3.jnz?portlet=Blog_3&screen=View+Post&screenType=next&&Id=889b0356-668f-4260-adb3-adcf5059fd9a

Pengertian ilmu ekonomi pertanian

Pengertian Ilmu Ekonomi Pertanian

Pengertian Ilmu Ekonomi Pertanian

Pengertian ilmu ekonomi pertanian

Pengertian ilmu ekonomi pertanian

Ilmu ekonomi pertanian adalah bidang terapan dari ilmu ekonomi yang berhubungan dengan aplikasi dari teori ilmu ekonomi dalam mengoptimasi produksi dan distribusi dari makanan dan produk pertanian lainnya. Ilmu ekonomi pertanian adalah suatu cabang dari ilmu ekonomi yang secara spesifik berhubungan dengan penggunaan lahan. Ia berfokus kepada memaksimalkan tanah pertanian sementara tetap menjaga ekosistem tanah tetap baik. Selama abad ke-20 disiplin ilmu tersebut meluas dan cakupan terkini dari disiplin ilmu tersebut adalah lebih luas lagi. Ilmu ekonomi pertanian sekarang ini termasuk berbagai area terapan, banyak bersinggungan dengan ilmu ekonomi konvensional. Ekonom pertanian telah membuat kontribusi substansial kepada riset dalam ilmu ekonomi, ekonometrik, ilmu ekonomi pembangunan, dan ilmu ekonomi lingkungan. Ilmu ekonomi pertanian mempengaruhi kebijakan pangan, kebijakan pertanian, dan kebijakan lingkungan.

Ilmu ekonomi telah didefinisi sebagai suatu studi tentang alokasi sumber daya di bawah tekanan kelangkaan. Ilmu ekonomi pertanian, atau aplikasi dari metode ekonomi untuk mengoptimasi keputusan yang diambil oleh produsen pertanian, telah tumbuh menonjol sekitar abad ke-20. Bidang dari ilmu ekonomi pertanian dapat ditelusuri untuk bekerja pada ilmu ekonomi lahan. Henry Charles Taylor adalah kontributor terbesar dengan pendirian Department of Agricultural Economics di Wisconsin pada tahun 1909.

Kontributor lainnya, pemenang hadiah Nobel ekonomi pada 1979, Theodore Schultz, adalah orang pertama yang menyelidiki ilmu ekonomi pembangunan sebagai masalah yang berhubungan secara langsung kepada pertanian. Theodore Schultz juga berperan penting dalam menetapkan ekonometri sebagai sebuah alat untuk digunakan dalam menganalisa ilmu ekonomi pertanian secara empiris.

Pengertian bank

Pengertian Bank

Pengertian Bank

Pengertian bank

Pengertian bank

Bank adalah suatu perantara finansial yang menciptakan kredit dengan meminjamkan uang kepada para peminjam, yang juga menciptakan deposit yang sama pada neraca keuangan bank. Aktivitas peminjaman dapat ditampilkan secara langsung atau tidak langsung melalui pasar finansial. Oleh karena pentingnya peranan mereka dalam sistem finansial dan pengaruh dalam perkonomian nasional, bank memiliki regulasi yang sangat ketat dalam kebanyakan negara. Kebanyakan negara telah menginstitusionalisasi sebuah sistem yang dikenal sebagai reserve fraksional perbankan di bawah yang mana bank-bank menahan aset likuid sejumlah yang sama dengan sebagian dari kewajiban terkini mereka. Sebagai tambahan kepada regulasi lainnya yang dimaksudkan untuk memastikan likuiditas, bank-bank pada umumnya berkewajiban untuk memiliki modal minimal yang diharuskan berdasarkan standar modal yang ditetapkan secara internasional, yang dikenal dengan Basel Accords.

Perbankan dalam bentuknya yang modern mulai muncul di abad ke-14 di kota-kota kaya Renaissance Italy, tapi dalam banyak bentuknya adalah sebuah kelanjutan dari ide dan konsep dari kredit dan pinjaman yang memiliki akarnya di dunia kuno. Dalam sejarah perbankan, sejumlah dinasti perbankan – yang terkenal, Medici, Fugger, Welser, Berenberg, dan Rothschilds – telah memainkan peran yang sangat sentral dalam berabad-abad. Eksistensi bank retail tertua adalah Monte dei Paschi di Siena, sementara eksistensi bank perdagangan tertua adalah Berenberg Bank.

Dengan adanya bank, peradaban manusia jadi lebih dimudahkan dalam melakukan berbagai macam aktivitasnya, baik itu aktivitas lokal, nasional, maupun internasional. Sekarang ini, tidaklah sulit untuk mengadakan perdagangan dengan siapapun orang di seluruh dunia. Bank akan menjadi perantara bagi proses pembayaran perdagangan tersebut.

Sumber : https://41914110003.blog.mercubuana.ac.id/contoh-makalah-pengantar-bisnis/

Pengertian Barter

Pengertian Barter

Pengertian Barter

Pengertian Barter

Pengertian Barter

Barter adalah suatu sistem pertukaran yang mana barang atau jasa secara langsung dipertukarkan untuk barang dan jasa yang lainnya tanpa menggunakan alat perantara pertukaran, seperti misalnya uang. Ia adalah suatu sistem yang jauh berbeda dalam banyak hal dibanding perekonomian yang sifatnya pemberian; salah satunya adalah proses pertukaran berlangsung segera dan tidak ada penundaan dalam hal waktu. Ia biasanya dilakukan secara bilateral, tapi mungkin bisa multilateral (misalnya dimediasi melalui organisasi barter) dan, dalam kebanyakan negara-negara berkembang, biasanya hanya eksis secara paralel terhadap sistem moneter dalam jangkauan yang sangat terbatas. Barter, sebagai sebuah penggantian untuk uang sebagai metode pertukaran, adalah digunakan pada masa krisis moneter, seperti misalnya saat mata uang dalam keadaan yang tidak stabil (misalnya saat hiperinflasi atau deflasi spiral) atau sederhananya tidak tersedia untuk mengadakan perdagangan.

Para ekonom sejak Adam Smith, menengok pada masyarakat kuno, telah memanfaatkan inefisiensi dari barter untuk menjelaskan munculnya uang, ekonomi, dan disiplin dari ilmu ekonomi itu sendiri. Tapi, studi etnografi telah menunjukkan tidak ada masyarakat sekarang atau masa lalu yang menggunakan sistem barter tanpa medium pertukaran atau pengukuran lainnya, tidak juga para antropolog menemukan bukti bahwa uang telah muncul dari sistem barter, melainkan menemukan bahwa pemberian barang (jangkauan kredit dalam basis personal dengan sebuah keseimbangan interpersonal dijaga dalam jangka panjang) adalah alat yang paling mendasar dari pertukaran barang dan jasa.

Sejak tahun 1830-an, sistem barter dalam beberapa ekonomi pasar dunia barat telah dibantu oleh pertukaran yang menggunakan mata uang alternatif berdasarkan teori nilai tenaga kerja, dan didesain untuk mencegah pengambilan profit oleh pihak perantara.

Etik dan Kebebasan Memilih

Etik dan Kebebasan Memilih

Etik dan Kebebasan Memilih

Etik dan Kebebasan Memilih

Etik dan Kebebasan Memilih

Karena komunikasi mempunyai dampak, maka ada masalah etik di sini. Karena komunikasi mengandung konsekuensi, maka ada aspek benar-salah dalam setiap tindak komunikasi. Tidak seperti prinsip-prinsip komunikasi yang efektif, prinsip-prinsip komunikasi yang etis sulit dirumuskan.

Seringkali kita dapat mengamati dampak komunikasi, dan berdasarkan pengamatan ini, merumuskan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif. Tetapi, kita tidak dapat mengamati kebenaran atau ketidakbenaran suatu tindak komunikasi.

Dimensi etik dari komunikasi makin rumit karena etik begitu terkaitnya dengan falsafah hidup pribadi seseorang sehingga sukar untuk menyarankan pedoman yang berlaku bagi setiap orang. Meskipun sukar, pertimbangan etik tetaplah merupakan bagian integral dalam setiap tindak komunikasi. Keputusan yang kita ambil dalam hal komunikasi haruslah dipedomani oleh apa yang kita anggap benar di samping juga oleh apa yang kita anggap efektif.

Apakah komunikasi itu etis atau tidak etis, landasannya adalah gagasan kebebasan memilih serta asumsi bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Komunikasi dikatakan etis bila menjamin kebebasan memilih seseorang dengan memberikan kepada orang tersebut dasar pemilihan yang akurat. Komunikasi dikatakan tidak etis bila mengganggu kebebasan memilih seseorang dengan menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam menentukan pilihan. Oleh karenanya, komunikasi yang tidak etis adalah komunikasi yang memaksa seseorang (1) mengambil pilihan yang secara normal tidak akan dipilihnya atau (2) tidak mengambil pilihan yang secara normal akan dipilihnya. Sebagai contoh, seorang pejabat rekruting perusahaan mungkin saja membesar-besarkan manfaat bekerja di Perusahaan X dan dengan demikian mendorong anda untuk menentukan pilihan yang secara normal tidak akan anda ambil (jika saja anda mengetahui fakta-fakta sebenarnya).

Dalam etik yang didasarkan atas kebebasan memilih ini, ada beberapa persyaratan. Kita mengasumsikan bahwa orang-orang ini sudah cukup umur dan berada dalam kondisi mental yang memungkinkan mereka melaksanakan pilihan secara bebas. Selanjutnya, kita mengasumsikan bahwa kebebasan memilih dalam situasi mereka tidak akan menghalangi kebebasan memilih orang lain. Sebagai contoh, anak-anak berusia 5 atau 6 tahun tidak akan siap untuk menentukan pilihan sendiri (memilih menu mereka sendiri, memilih waktu untuk tidur, memilih jenis obat), sehingga harus ada orang lain yang melakukannya untuk mereka. Begitu juga, seseorang yang menderita keterbelakangan mental membutuhkan orang lain untuk mengambilkan keputusan tertentu bagi mereka.

Di samping itu, situasi lingkungan kehidupan seseorang dapat membatasi kebebasan memilih ini. Sebagai contoh, anggota tentara seringkali harus melepaskan kebebasan memilih dan makan nasi bungkus, bukan roti keju, mengenakan seragam militer, bukan jins, lari pagi, bukan tidur. Dengan menjadi tentara, seseorang setidak-tidaknya harus melepaskan sebagian hak mereka untuk menentukan pilihan sendiri. Akhirnya, kebebasan memilih yang kita miliki tidak boleh menghalangi orang lain untuk menentukan pilihan mereka sendiri.

Kita tidak bisa membiarkan seorang pencuri memiliki kebebasan untuk mencuri, karena dengan memberikan kebebasan ini kita menghalangi korban pencurian untuk menikmati kebebasan memilih mereka—hak untuk memiliki barang dan hak untuk merasa aman dalam rumah mereka.

Baca Juga :

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Langkah 1

Menciptakan suasana nyaman dan mendorong kesiapan peserta untuk menerima materi. Ini bisa dilakukan dengan fasilitator mempekenalkan diri dan berusaha untuk mengenali peserta. Selama interaksi awal ini upayakan menangkap sesuatu yang terobservasi dan dikaitkan dengan materi komunikasi dan motivasi, bangkitkan kehadiran yang utuh pada sesi ini dan peluang untuk mendapatkan manfaat jika interaksi ini bersifat parsipatoris.

Langkah 2

Pokok bahasan 1, sub pokok bahasan a: Pengertian, komponen, dan tujuan komunikasi

Kegiatan fasilitator:

Apapun yang terjadi pada kegiatan 1, gunakan itu sebagai awal untuk memulai mengantarkan peserta lebih mendalami lagi proses komunikasi antar manusia.

1.  Fasilitator membagikan materi yang akan dipelajari/dikaji  bersama. Mulailah dengan menggali komponen-komponen dari proses komunikasi antar manusia menurut pemahaman peserta. Peserta diminta untuk mempelajari gambar model  komunikasi universal dan lakukan curah pendapat dengan melakukan pertanyaan-pertanyaan.

  1. Membagi peserta ke dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 sampai 6 orang. Tugas kelompok: menyusun model diagram dari elemen/komponen komunikasi dari salah satu situasi komunikasi
  2. Memfasilitasi kegiatan diskusi kelompok.

Kegiatan peserta:

  1. Peserta mempelajari materi yang akan dipelajari/dikaji bersama kemudian mempelajari gambar model  komunikasi universal dan lakukan curah pendapat dengan melakukan pertanyaan-pertanyaan.
  2. Melakukan diskusi kelompok untuk menyusun model diagram dari elemen/komponen komunikasi dari salah satu situasi komunikasi.
  3. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok.

Langkah 3

Pokok bahasan 1, sub pokok bahasan b: Prinsip-prinsip komunikasi

Kegiatan fasilitator:

1.  Fasilitator memberi kesempatan untuk mempelajari sub pokok bahasan b.

2.  Untuk membantu peserta memahami prinsip-prinsip komunikasi antar manusia secara lebih baik atau pada situasi yang aktual, pada kegiatan ini dilakukan bermain peran (role play), bermain peran (role play) dapat dilakukan dengan meminta beberapa peserta memperagakan interaksi atau situasi komunikasi antara seorang pejabat fungsional yang sedang melaksanakan fungsi pelayanannya pada beberapa konsumen (masyarakat).

3.  Peserta yang lain dibagi diri dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3—4 orang untuk memusatkan perhatian pada satu atau dua prinsip komunikasi.

Kegiatan peserta:

  1. Mempelajari materi sub pokok bahasan b.

2. Melakukan kegiatan bermain peran dengan memperagakan interaksi atau situasi komunikasi antara seorang pejabat fungsional yang sedang melaksanakan fungsi pelayanannya pada beberapa konsumen (masyarakat).

3. Membahas dalam diskusi kelompok untuk memusatkan perhatian pada satu atau dua prinsip komunikasi.

  1. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan didiskusikan.

Langkah 4

Pokok bahasan 1, sub pokok bahasan c: Persepsi dalam kontek komunikasi dan pokok bahasan 2: Motivasi

Kegiatan fasilitator:

1. Fasilitator memberi kesempatan untuk mempelajari mengenai sub pokok bahasan c dan pokok bahasan 2.

2. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3—4 orang. Fasilitator memberikan beberapa contoh perilaku dan membahas apakah perilaku orang tersebut disebabkan oleh faktor internal atau eksternal serta mengidentifikasikan informasi yang terkandung dalam uraian perilaku.

3. Meminta peserta memberikan penjelasan menurut teori kepuasan dan teori proses.

Kegiatan peserta:

  1. Mempelajari materi sub pokok bahasan b.

2. Membagi diri dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3—4 orang. Mempelajari beberapa contoh perilaku dan membahas apakah perilaku orang tersebut disebabkan oleh faktor internal atau eksternal serta mengidentifikasikan informasi yang terkandung dalam uraian perilaku.

3. Meminta peserta memberikan penjelasan menurut teori kepuasan dan teori proses.

Langkah 5

Refleksikan kegiatan selama sesi berlangsung. Berikan kesempatan pada peserta untuk mengungkapkan hasil belajarnya dan memberikan rekomendasi kepada fasilitator atau penyelenggara agar sesi yang akan datang dapat lebih memberikan iklim yang kondusif dalam proses pembelajaran.

Akhir kegiatan, fasilitator melakukan umpan balik terhadap hasil belajar yang dicapai pada akhir sesi. Komentar lisan dicatat. Tayangkan catatan hasil belajar, lakukan klarifikasi dan simpulan seperlunya. Berikan penghargaan kepada peserta atas partisipasinya selama sesi berlangsung.

VI. URAIAN MATERI

POKOK BAHASAN 1. KOMUNIKASI

A. Pengertian komunikasi, komponen dan tujuan komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Pengertian komunikasi sudah banyak didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak orang yang mendifinisikannya. Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.

Gambar berikut menggambarkan apa yang dapat kita namakan model universal komunikasi. Ini mengandung elemen-elemen yang ada dalam setiap tindak komunikasi, terlepas dari apakah itu bersifat intrapribadi, antarpribadi, kelompok kecil, pidato terbuka, atau komunikasi masa.

2. Komponen Komunikasi

a. Lingkungan komunikasi

Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki tiga dimensi:

1.       Fisik, adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang nyata atau berwujud.

2. Sosial-psikoilogis, meliputi, misalnya tata hubungan status di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau,

3. Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah dimana komunikasi berlangsung.

Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan banyak perubahan lain. Proses komunikasi tidak pernah statis.

b. Sumber-Penerima

Kita menggunakan istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Anda mengirimkan pesan ketika anda berbicara, menulis, atau memberikan isyarat tubuh. Anda menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan sebagainya.

Tetapi, ketika anda mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda menerima pesan anda sendiri (anda mendengar diri sendiri, merasakan gerakan anda sendiri, dan melihat banyak isyarat tubuh anda sendiri) dan anda menerima pesan dari orang lain (secara visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman). Ketika anda berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan tanggapan (untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan sebagainya). Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda menjalankan fungsi penerima.

c.  Enkoding-Dekoding

Dalam ilmu komunikasi kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis) sebagai enkoding (encoding). Dengan menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Jadi, kita melakukan enkoding.

Kita menamai tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) sebagai dekoding (decoding). Dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan, anda menguraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding.

Oleh karenanya kita menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder), dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). Seperti halnya sumber-penerima, kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan fungsi-fungsi ini secara simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga menyerap tanggapan dari pendengar (dekoding).

d. Kompetensi Komunikasi

Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan anda untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain). Pengetabuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya kepatutan sentuhan, suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.

Dengan meningkatkan kompetensi anda, anda akan mempunyai banyak pilihan berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Proses ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan kata: Makin banyak kata anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi perbendaharaan kata anda), makin banyak cara yang anda miliki untuk mengungkapkan diri.

e.  Pesan

Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan komunikasi.

f.  Saluran

Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh, ini pun komunikasi (saluran taktil).

g. Umpan Balik

Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis.

Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik.

h. Gangguan

Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.

Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada orang lain berbicara), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala kita), atau semantik (salah mengartikan makna). Tabel dibawah menyajikan ketiga macam gangguan ini secara lebih rinci.

Sumber : https://cs.byu.edu/job-posting/understanding-juridical-basis-education

KOMUNIKASI DAN MOTIVASI

KOMUNIKASI DAN MOTIVASI

KOMUNIKASI DAN MOTIVASI

KOMUNIKASI DAN MOTIVASI

KOMUNIKASI DAN MOTIVASI

DESKRIPSI SINGKAT

Dari semua pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki, pengetahuan dan keterampilan yang menyangkut komunikasi termasuk di antara yang paling penting dan  berguna. Melalui komunikasi intrapribadi kita berbicara dengan diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengevaluasi diri sendiri tentang ini dan itu, mempertimbangkan keputusan-keputusan yang akan diambil dan menyiapkan pesan-pesan yang akan kita sampaikan kepada orang lain. Melalui komunikasi antar pribadi kita berinteraksi dengan orang lain, mengenal mereka dan diri kita sendiri, dan mengungkapkan diri sendiri kepada orang lain. Apakah kepada pimpinan, teman sekerja, teman seprofesi, kekasih, atau anggota keluarga, melalui komunikasi antar pribadilah kita membina, memelihara, kadang-kadang merusak (dan ada kalangnya memperbaiki) hubungan pribadi kita.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan pembelajaran umum:

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu melaksanakan komunikasi dan motivasi dengan baik.

B. Tujuan pembelajaran khusus :

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu:

  1. Menjelaskan tentang komunikasi.
  2. Menjelaskan tentang teori motivasi

III. POKOK BAHASAN dan SUB POKOK BAHASAN

Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka modul ini membahas tentang:

1. Komunikasi

a.  Pengertian, komponen, dan tujuan komunikasi

b.  Prinsip-prinsip komunikasi

c.  Persepsi dalam kontek komunikasi

2. Motivasi

a.  Pengertian

b.  Teori kepuasaan

c.  Teori proses

d.  Kegagalan dalam memotivasi (catatan)

IV. BAHAN BELAJAR

  1. Larry King, Bill Gilbert, Seni Berbicara: kepada siapa saja, kapan saja, dimana saja (editor Tanti Lesmana), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2002.
  2. R. Wayne Pace, Don F. Faulos, Komunikasi Organisasi: Strategi meningkatkan kinerja perusahaan (editor Deddy Mulyana, MA, Ph.D.), PT Remaja Rosdakarya Bandung 2002.
  3. Joseph A. Devito; Komunikasi antar manusia (edisi kelima), Profesional Books, Jakarta, 1997.
  4. Deborah Tannen, Seni komunikasi Efektif: membangun relasi dengan membina gaya percakapan, (alih bahasa dra. Amitya Komara), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1996.
  5. Prof. Dr. Astrid S. Susanto-Sunarto; Globalisasi dan komunikasi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1995.
  6. Charles V. Larson; Persuasion: Perception and Responsibility (fourth Edition), Wadsworth Publishing Company, California 1986.

Sumber : https://mentors.teachable.com/blog/189222/understanding-learning-outcomes-according-to-experts

Atasi Pernikahan Dini, Mahasiswa Unair Banyuwangi Ciptakan Gen Muatan ID

Atasi Pernikahan Dini, Mahasiswa Unair Banyuwangi Ciptakan Gen Muatan ID

Atasi Pernikahan Dini, Mahasiswa Unair Banyuwangi Ciptakan Gen Muatan ID

Atasi Pernikahan Dini, Mahasiswa Unair Banyuwangi Ciptakan Gen Muatan ID

Atasi Pernikahan Dini, Mahasiswa Unair Banyuwangi Ciptakan Gen Muatan ID

Berawal dari tugas mata kuliah Dasar Media dalam Kesehatan Masyarakat 1, alumni prodi Kesehatan Masyarakat PSDKU Unair di Banyuwangi yang terdiri oleh Inriza Yuliandari, Chintya Devi, Apik Mila Sari, Dian Nindya, dan Saiful Azis Setyawan, ciptakan Gen Mutan ID.

Dijelaskan oleh Inriza Wulandari bahwa tujuan mata kuliah Dasar Media yaitu untuk membuat sebuah inovasi program mengenai suatu masalah seputar kesehatan masyarakat yang terjadi di suatu daerah.

Setelah kami riset, kebetulan desa Segobang (Banyuwangi) ini tingkat pernikahan dininya lumayan tinggi, hingga masuk 10 besar desa dengan pernikahan dininya, jelas Alumni angkatan 2015 tersebut.

Setelah mendapat dukungan dari pihak tenaga kesehatan desa Segobang dalam hal pelaksanaan

inovasi kesehatan, akhirnya mereka menetapkan desa tersebut sebagai target realisasi inovasi mereka, yaitu Gen Mutan ID.

Gen Mutan ID atau Generasi Muda Tanpa Nikah Dini merupakan sebuah inovasi dalam hal pelaksanaan kesehatan masyarakat, dimana targetnya yaitu siswa-siswa sekolah dasar beserta wali murid di desa Segobang-Banyuwangi dengan tujuan mensosialisasikan kekurangan dalam pernikahan di usia dini.

“Inovasi dari kami yaitu agar dibentuk duta Gen Mutan ID saja, agar lebih sustain programnya. Karena kan kita tahu, anak anak kalo cuman diberikan penyuluhan pasti langsung hilang ilmunya. Tapi, kalo ada duta kemunginan mereka akan lebih aware dan mereka akan berusaha untuk menjadi duta juga, ujarnya.

Sebelum keenam alumni tersebut turut terjun dalam upaya pencegahan pernikahan dini di desa

Segobang, sebetulnya program semacam penyuluhan terkait bahaya atau kekurangan pernikahan dini sudah dilaksanakan oleh pihak kesehatan setempat, hanya saja output yang mereka dapatkan dirasa kurang maksimal. Sehingga keenam alumni asal FKM UNAIR Banyuwangi tersebut turut terjun untuk memaksimalkan program yang ada.

“Alhamdulillah-nya, program tersebut masih berlanjut hingga sekarang, serta telah dilaksanakan di seluruh SD di desa Segobang, bedanya kita kemarin menentukan duta Gen Mutan ID dari hasil pretest dan posttest, namun kini pihak Puskesmas setempat telah memiliki instrumennya sendiri dalam memilih duta,” imbuh Renza.

Menurut Renza, terdapat hal menarik dalam inovasi yang disusulkan bersama kawan-kawanya

tersebut, yaitu lolos dalam perlombaan inovasi kesehatan tingkat kabupaten hingga finalis di tingkat nasional, dimana yang mengusungkan inovasi tersebut dalam perlombaan yaitu pihak Puskesmas desa Segobang.

 

Baca Juga :

Kapolres Jember Pesantren Laboratorium Perdamaian

Kapolres Jember: Pesantren Laboratorium Perdamaian

Kapolres Jember: Pesantren Laboratorium Perdamaian

Kapolres Jember Pesantren Laboratorium Perdamaian

Kapolres Jember Pesantren Laboratorium Perdamaian

Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Alfian Nurrizal menyebut pesantren adalah

laboratorium perdamaian. Hal ini dikemukakannya saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Santri Nasional, di Stadion utama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Jawa Timur, Selasa (22/10/2019).

“Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam

Rahmatan Lil Alamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural,” kata Alfian. Menurutnya, dengan cara yang damai, keragaman dapat disikapi dengan bijak, serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat damai kalangan pesantren inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia.

Namun di sisi yang lain, para santri juga bisa bersikap berani memperjuangkan bangsa dan negara

saat dibutuhkan. Alfian mengatakan, penetapan Tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri merujuk pada tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari bersama kiai- kiai lain. “Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan,” katanya.

 

Sumber :

LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING