Pemerintah Gandeng UK Petra Majukan Desa Jarak sebagai Desa Wisata Indonesia

Pemerintah Gandeng UK Petra Majukan Desa Jarak sebagai Desa Wisata Indonesia

Pemerintah Gandeng UK Petra Majukan Desa Jarak sebagai Desa Wisata Indonesia

Pemerintah Gandeng UK Petra Majukan Desa Jarak sebagai Desa Wisata Indonesia

Pemerintah Indonesia terus berupaya mewujudkan desa wisata melalui Program Pendampingan Desa Mitra (PPDM) bersama-sama dengan tenaga ahli. Salah satunya dengan empat orang dosen UK Petra, Surabaya dan memberikan hibah pendanaan sebesar Rp 450 juta.

“Program ini dilaksanakan selama tiga tahun, pertahunnya mendapatkan Rp 150 juta kemudian dievaluasi apakah memenuhi target,” urai Anik Juniwati, ST MT sebagai ketua tim Pengabdian Masyarakat UK Petra.

Empat orang tim Pengabdian Masyarakat dari UK Petra yang mendapatkan hibah PPDM ini dalah

Anik Juniwati dari Program Studi Arsitektur, Dr. Rudy Setiawan dari Program Studi Teknik Sipil, Serli Wijaya dari Program Studi Magister Manajemen dan Devi Destiani Andilas dari Program Manajemen Kepariwisataan.

Desa Jarak kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang berjarak ± 83 km arah barat daya Kota Surabaya, di kaki Gunung Anjasmoro. Lahan seluas ± 2 ha yang dikenal dengan nama Bukit Pencaringan yang menjadi jujugan tim abdimas UK Petra untuk dikembangkan sebagai sentra wisata.

Program Pendampingan Desa Mitra (PPDM) ini sendiri merupakan program pendampingan bagi pemerintah dan masyarakat desa dalam upaya mewujudkan desa wisata. Hal ini mendukung target pemerintah pada tahun 2019, Indonesia harus memiliki 2000 desa wisata se-Indonesia.

“Desa Jarak ini ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sebagai salah satu desa agrowisata di Kecamatan Wonosalam yang melihat dari banyaknya potensi alam, pertanian atau perkebunan, peternakan hingga budaya,” tambah Anik.

Tim abdimas UK Petra sendiri melakukan dua hal besar yaitu pembangunan fisik dan

pendampingan pengelolaan pariwisatanya.

Mereka menggunakan konsep Community-Based-Tourism (CBT), sebuah pendekatan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan berbasis komunitas. Maka tidak heran jika para tim sangat melibatkan warga. Keterlibatan warga sangat diperhatikan mulai perencanaan, implementasi hingga pengendalian dimana warga desa Jarak harus ikut terlibat.

“Kami juga akan membekali kemampuan warga untuk mengolah, mengemas hasil bumi hingga

mengelola wisata yang berdaya saing,” urai Serli Wijaya salah satu anggota tim Abdimas.

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/makalah-pendidikan-islam/